Archive for October, 2009
Serasa De Javu dengan mereka
Ya serasa de javu dengan mereka. Tidak ada yang berubah. Dari masa – masa awal gw bergabung, kemudian gw memisahkan diri dan kemudian diajak melihat kebodohan – kebodohan yang mereka lakukan, membuat semuanya begitu de javu.
Serasa de javu untuk memaklumi bahwa memang ada orang – orang yang tidak berubah. Ketika dihadapkan kepada suatu pengertian yang baik, dan kita menyadari sebuah kesalahan pada kita, hendaknyalah kita mampu untuk berubah. Maka serasa de javu melihat satu dua orang ini jatuh pada kesalahan/kebodohan yang sama.
Aku, kamu, dia dan juga mereka adalah manusia – manusia yang tidak sempurna. Salahku juga salahmu membuat kita sama. Keinginanku dan keinginanmu membuat kita sama. Kita sama – sama memiliki salah dan keinginan. Sama halnya dengan sebuah pandangan. Saat kita memandang sebuah pohon, maka memang kita memandang pohon yang sama. Tapi saat kau memaksakan bahwa pohon itu tidak berbuah karena kau tidak melihat buah sama sekali pada pohon itu, itulah yang membuat kita berbeda. Tidakkah kau tahu bahwa pohon itu adalah pohon yang berbuah di dalam tanah. Mengapa tidak engkau coba menggali untuk memastikan kebenarannya. Mengapa harus mendengar celoteh orang – orang yang tidak pernah mempelajari pohon ini. Kumohon janganlah engkau berdiri di atas opini yang serapuh itu. Tidak dari kita selalu benar.
Tapi tak ada yang hendak berubah. Jadi biarkan saja begitu kawan ? Kami meninggalkan kalian bukan karena kami benci. Tapi karena kami peduli. Tak ada gunanya kami bersama kalian. Selama kita masih memiliki pandangan yang berbeda tentang pohon ini. Percayalah.
2 comments October 12, 2009
Saya + TUHAN = cukup…??
Saya + TUHAN = cukup gw dengar pertama kali pas acara Golden Ways nya Mario Teguh di Metro TV. Acara yang memberi banyak motivasi dan inspirasi bagi para penyimaknya agar dapat lebih terbuka pikiran dan lebih bahagia. Tapi di sini saya memang tidak hendak membicarakan acara tersebut, melainkan hendak menuliskan pendapat saya tentang topik Saya + TUHAN = cukup.
Mudahnya, Saya + TUHAN = cukup adalah sesuatu yang mudah dicerna. Mendekatkan diri, selalu bersyukur, dan melakukan hal – hal yang baik adalah hal yang membuat kita merasa cukup. Apa yang mau saya sampaikan sebenarnya, hal yang mudah dicerna ini adalah hal yang benar sulit untuk dilakukan. Kita mudah berbicara tentang kasih pada sesama, tapi mudah juga beraksi tidak kasih pada sesama. Lalu yang menjadi alasan dibalik dua hal yang berlawanan itu adalah tidak ada manusia yang sempurna (terlihat jelas).
Apa yang saya alami sendiri tentang Saya + TUHAN adalah = cukup adalah tidak pernah cukup. Terkadang memang mudah mensyukuri segala hal, baik maupun buruk. Di saat kita merasa cukup, bagian lain dari diri saya merasa tak pernah cukup. Tak pernah cukup dengan keadaan yang saya terima. Cukup yang saya rasakan adalah manipulasi diri. Lari dari keadaan nyata. Pasrah dengan keadaan diri yang terinjak dan tidak bangkit. Saya sesungguhnya tidak pernah sampai pada kata cukup itu sendiri. Atau tuliskan saja formulasi baru Saya + “TUHAN” = “cukup”. Aku selalu menghindar dan terus berlari..
Add comment October 6, 2009