Menunggu Libur

“Libur telah tiba, libur telah tiba, hore, hore, hore…”.

Kalau baca tulisan di atas sambil dinyanyikan, bisa jadi kita seangakatan, seumuran atau apalah.

Kalau ingat Tasya saat kecil dan sekarang sudah lulus S2, maka betapa tuanya saya.

Libur.

Kemarin pagi dan tadi pagi (setengah lima pagi), saya berangkat dari rumah orang tua saya menuju ke tempat saya bekerja di Cikarang. Pemandangan yang sama dari kedua pagi tersebut adalah motor dan mobil dengan muatan – muatannya. Kardus – kardus dan tas. Motornya dimodifikasi sedemikian rupa sehingga penumpang di belakang bisa senderan tanpa perlu takut terjatuh karena ngantuk. Mobilnya diberi perangkat lagi agar bisa memuat barang – barang di bagian atapnya dan tentunya ditutup terpal agar semua orang tahu bahwa orang – orang di dalamnya hendak mudik.

Kemudian saya disini, duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja. Tidak. Saya sendirian di ruang kantor. Gudang sudah sepi, sebagian pekerjanya sudah mudik. Tidak ada pengiriman barang ke banyak costumer. Tidak ada penerimaan barang berton – ton yang mesti di curah penyusunannya. Tidak ada bunyi forklift yang berlalu lalang membawa pallet bermuatan barang. Tidak ada bunyi las – lasan dan cahaya yang timbul darinya memantul – mantul di jendela. Hanya ada hening. Hanya ada bunyi pertemuan jari – jari saya dengan tombol – tombol di keyboard yang akhirnya mewujud menjadi tulisan ini.

Oh iya, besok libur.

 

Advertisements

Belajar dari Angkot

Ya sudah beberapa bulan dari tulisan sebelumnya. Sekarang gw tinggal agak kesanaan dari Caringin yang agak kesanaan dari Ciawi yang agak kesanaan juga dari Bogor. Di luar jendela kamar udah ada gunung Salak yang sudah megah berdiri. Kalau lagi cerah – cerahnya ya bisa lihat indahnya Gunung Salak (tapi salaknya mana ? Jadi aku yang bersalak nih ? *maaf plesetan).

IMG_20180315_081708[1]
Asjep. asal jepret.
Istri gw bilang ini daerah namanya Cigombong. Untuk menuju ke sini bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan tidak pribadi seperti bis, angkot dan lain -lain. Untuk yang menggunakan kendaraan pribadi ya nantinya bisa saja dapat kejutan berupa macet total gak bisa gerak sama sekali dan walaupun bisa gerak seperti 1 meter per 10 detik ( jadi berapakah jika diubah menjadi km/jam ?).

Satu – satunya cara adalah angkot. Kenapa angkot ? Ya setelah beberapa lama disini saya menjadi mengerti.

Angkot yang melewati Cigombong adalah angkot dengan trayek Sukasari (Bogor) – Cicurug. Rutenya dari Sukasari – Tajur – Ciawi – Cikretek – Cimande – Ciherang – Caringin lalu lewatin Cigombong, setelahnya saya belum pernah coba.

Lalu jalur Ciawi – Sukabumi ini adalah jalur yang gak jarang macet, apalagi kalau sudah akhir pekan. Belum lagi sering dilalui truk – truk besar air mineral bergalon – galon ataupun produk – produk industri lainnya yang mendirikan pabriknya di sepanjang jalan menuju Sukabumi.

OOT dikit, kalau dari Jakarta (via Cawang) naik APTB nanti turunnya di Ciawi, dan ketika kamu turun kamu akan bertanya – tanya sebenarnya kamu berada di mana ketika ada kernet yang mengajak – ajak, “Bumi Bumi Bumi..Bumi A…”.

Ok Angkot Cicurug ini anti macet (walau gak semuanya). Ada dua tipe angkot Cicurug, angkot yang bertulisan warna merah “Monster” dan angkot yang tidak bertulisan “Monster”. Yang bertulisan “Monster” ini konon adalah angkot yang cepat dan jarang ngetem – ngetem. Kemudian saat menghadapi macet, supirnya begitu lihai, begitu luwes kayak belut masuk sana sini. Begitu opportunis. Ada celah sedikit saja, sikat. Jadi ya kalau sama istri, kalau tidak ada tulisan monsternya dia nggak mau. Ya dia dan teman – teman kantornya, entah telah didoktrin siapa. Tapi sebenarnya rata – rata angkot Cicurug ini lihai – lihai kecuali memang sudah macet total.

Nah alternatif ketika sudah macet total adalah rute lain. Biasanya supir angkot bakal nanya dulu ke penumpang pada turun dimana. Kalau sudah nggak ada yang keberatan dia akan ngambil rute lain. Rute lain ini adalah rute masuk jalan desa dan kemudian tiba – tiba kita muncul di Caringin, Cikretek bahkan tanpa sadar sudah di daerah Batu Tulis. Terakhir lewat rute lain, saya dan istri muncul di BIOTROP. Menangnya lewat rute lain ini (kalau siang) adalah pemandangan desa yang asri, mulai dari sawah – sawah sampai dengan pembangunan jalan tol. Tetapi sempat mengerikan juga saat terakhir melalui tikungan S dan tanjakan. Saat menanjak lalu gak kuat, angkot mati dan penumpang panik. Belum lagi di belakang angkot ada motor ikutan berhenti. Akhirnya supir angkat rem tangan dan penumpang turun. Semua selamat semua senang.

Kemudian karakter supir angkot Cicurug juga bermacam – macam. Ada yang kalem aja sepanjang perjalanan. Ada yang suka ngobrol dengan penumpang di sampingnya. Ada yang gak bisa diam klakson – klakson punten ke pengendara lain. Ada yang dapat tiap mau jalan setelah penumpang naik ucap Bismillah. Yang lucu itu supirnya masih muda bener bawa teman, temannya mabuk. Temannya ngomong ngalor – ngidul ke penumpang. Pas macet lari – lari di sepanjang jalan terus naik angkotnya lagi. Kemarin pas ke Caringin cariin duku buat istri, supir angkotnya malah lagi asyik sama istrinya (mungkin).

Terakhir tentang ongkos angkot. Dari Sukasari sampai ke Cigombong biasanya 7000 rupiah. Kalau bayar dengan uang 10000 rupiah, kembalinya bisa kembali 3000 rupiah, bisa 2000 rupiah, bisa juga tidak kembali. Dari Cigombong ke Ciawi biasanya 5000 rupiah, kalau bayar dengan uang 10000 rupiah, bisa kembali 500o rupiah, bisa 4000 rupiah bahkan 3000 rupiah. Dari Cigombong ke Caringin biasanya kasih 2500 rupiah, kalau bayar pakai 5000 rupiah, bisa kembali 2000 rupiah, bisa kembali 1000 rupiah. Kadang dengan perjanjian karena akan menghadapi macet berkepanjangan, seakan – akan pak supir mengambil resiko mengorbankan waktu dan tenaga ( ya penumpang juga), supir dan penumpang deal – deal-an soal harga. Cara yang baik. Ya daripada ketika turun dan ditagih kurang.

Sekian yang saya bisa pelajari dari angkot Sukasari – Cicurug. Kiranya memberi manfaat untuk kita semua. Kiranya pak supir juga selalu lancar rejeki dan banyak penumpangnya.

 

 

Love stupid Stupid Love

Ada dua orang, Andre dan Heidi.

Andre adalah lelaki yang biasa saja berpenampilan. Dia cerdas, memiliki pandangannya sendiri tentang banyak hal. Dia banyak membaca dan terbentuk dari apa yang ia baca. Dia mempercayai jodoh sudah ada yang atur dan lain sebagainya itu. Dia mudah percaya. Dia tahu ada yang salah, namun dia memilih melihat sesuatu sampai akhir. Dia juga tahu akan hal buruk yang akan menimpanya dan dia memilih untuk menerima daripada lari darinya.

Heidi adalah wanita muda yang juga berpenampilan biasa saja. Dia juga cerdas. Dia memilih menjadi pengajar dibandingkan mengejar sesuatu yang lebih tinggi lagi. Dia belajar mengatur dirinya, mempersiapkan dirinya jika nanti kelak menjadi istri, menjadi ibu dari sebuah keluarga. Dia sederhana dan percaya tentang jodoh yang dari Tuhan. 

Lalu Andre dan Heidi jatuh cinta.

Andre sibuk sebagai kepala proyek kemanusiaan di pelosok – pelosok negeri. Hari – harinya dipenuhi perjalanan ke desa – desa, dusun – dusun yang tidak banyak orang tahu. Dia memilih pekerjaan ini karena itu yang dia inginkan sejak dahulu walaupun kuliah yang dia ambil tidak ada kaitannya, begitu kata orang – orang. Tetapi Andre sedari dahulu memang orang yang melibatkan dirinya kepada kemanusiaan. 

Delon adalah teman kerja Andre. Satu pelatihan dengan Andre, tapi mereka jarang bersama – sama di satu lokasi. Delon mengenalkan Andre kepada seseorang, Arina. Arina teman Delon. Lalu Andre berkenalan dengan Arina. Arina seorang pegawai di perusahaan makanan terkenal di Jakarta. Ya, Andre dimana Arina di Jakarta. Perkenalan mereka ya hanya melalui handphone. Chatting dan ngobrol banyak untuk mencari kecocokan dan chemistry di antara mereka. Sejauh itu, mereka nyambung dan nyaman. Jatuh cinta ? Bisa jadi. Lalu mereka bertemu di Jakarta, mereka ungkap perasaan dan pacaran. Seminggu kemudian Andre pun kembali lagi pada pekerjaannya. Masuk lagi ke pelosok – pelosok dan jauh dari Arina. 

Heidi sedang menjelaskan dengan detail bagaimana makanan yang masuk ke dalam mulut diproses hingga berakhir di kloset, kepada murid – muridnya di SMP Mulia, Surabaya. Heidi menjelaskan semuanya dalam bahasa inggris. Murid – muridnya, memahami. Selepas mengajar dia kembali ke kos yang tidak jauh dari sekolahnya. Beristirahat, ambil jemuran, nyetrika, nonton drama korea, mandi, makan malam, cek tugas murid – murid, nyambi chatting sama teman, baca renungan, doa, dan tidur.

Lalu muncul Hilman *manusia lembah (apaan sih ?). Hilman bekerja di salah satu perusahaan negara di Jakarta. Dia seorang pegawai kontrak. Heidi dan Hilman bertemu di Surabaya. Saat itu Hilman pergi mengunjungi orang tuanya yang sedang sakit. Heidi dan Hilman bertemu di swalayan. Saat itu Hilman melihat Heidi dan seperti orang – orang katakan “Cinta pada pandangan pertama”. Saat itu Heidi sedang memilih – milih bahan masakan. Hilman menghampiri. Hilman menanyakan apa saja dan dia mendapat nomor handphone Heidi. Hilman kembali ke Jakarta dan Heidi kembali mengajar. Rutinitas Heidi bertambah di malam hari, ngobrol dengan Hilman di telepon. Hari – hari Heidi lebih ceria. Hilman datang lagi ke Surabaya dan mereka pacaran. Hilamn kembali lagi ke Jakarta dan Heidi kembali mengajar.

Andre dan Arina mulai merencanakan masa depan mereka. Mulai menabung untuk nantinya membeli rumah. Hubungan mereka sudah cukup lama. Sedari awal, Andre memandang hubungan mereka dengan serius. Dia tidak akan mau pacaran kalau akhirnya tidak ke pernikahan. Beberapa bulan sekali mereka bertemu. Di awal semua begitu menyenangkan, semakin jauh semua semakin berat untuk Arina. Membayangkan Andre dimana dan Arina dimana setelah menikah nanti adalah hal tak diingini orang tuanya. Arina pun sependapat dengan orang tuanya. Andre pun sembari ke pelosok – pelosok mencoba mencari pekerjaan di Jakarta. Beberapa kali ada panggilan hingga wawancara, namun belum ada jawaban untuk usahanya. Semua mulai pudar. Andre masih berpengharapan. Masih percaya sesuatu yang baik akan terjadi kepada mereka berdua. Andre tetap menjaga dirinya hanya untuk Arina, tetap menjaga perasaannya hanya untuk Arina.  Ternyata sesuatu yang baik itu adalah Arina meninggalkannya. Mimpi – mimpi Andre runtuh.

Heidi dan Hilman bertemu hanya ketika Hilman ke Surabaya. Sudah sewajarnya lelaki yang mendatangi. Waktu pun terus berlalu. Hilman jarang menghubungi. Dihubungi pun Hilman jarang membalas. Ketika hendak ngobrol di malam hari, Hilman capek kerja seharian. Heidi tidak tahu apa yang terjadi. Beberapa teman memberi masukan tentang yang terjadi, Heidi tidak ambil percaya tentang omongan orang – orang. Hingga akhirnya Hilman diangkat menjadi pegawai tetap. Hilman bercerita malah gajinya berkurang setelah diangkat menjadi pegawai tetap. Heidi tidak peduli tentang hal itu. Heidi menyinggung tentang masa depan mereka berdua. Hilman mau ajak dia kemana ? Heidi berpengharapan kepada Tuhan. Hingga akhirnya Hilman mengatakan tidak enakan dan akhirnya meninggalkan Heidi. Heidi tetap kembali mengajar.

Andre dan Heidi percaya pada cinta yang lugu. Jarak bukan masalah asal tetap cinta. Melakukan yang terbaik dalam hubungannya dan menyenderkannya para Tuhan. Cinta itu medan perang. Ada yang berusaha bertahan dan ada yang berusaha merenggut. Sebagai yang bertahan, Andre dan Heidi tak menyadari semua itu bisa direnggut dan hilang. Paling tidak mereka sudah sangat baik dalam bertahan. Perang berikutnya mereka bisa

Semuanya bakal keren banget di atas sana

Ada gunung. Gunung yang hanya boleh dicapai puncaknya oleh dua orang saja. Di puncaknya kamu bisa melihat segalanya. 

Untuk mencapai puncaknya, melalui jalan setapak dan dua pos. Ada yang dari bawah gunung sudah membawa teman yang dari awal sebelum mendaki memang ingin memuncak bersama, ada pula yang memang seorang diri dengan perlengkapan yang memadai, berharap – harap bertemu siapapun dan bisa menuju puncak bersamanya, ada juga yang semboyannya yang penting bisa melihat puncak, entah dia  awalnya sendiri ataupun dengan teman. Motivasi tiap orang untuk mencapai puncak bisa berbeda – beda.

Di pos 1, pos awal, banyak sekali orang – orang disana. Ada yang sendiri dan ada yang sudah berdua. Yang sendiri bisa mencari – temannya dari sini. Bisa sebentar ketemu, bisa juga lama. Ya disini yang mantap sudah berdua bisa langsung jalan dan apa saja bisa terjadi. 

Dari pos 1 terus menelusuri jalan setapak hingga akhirnya tiba di pos 2. Di pos 2 kebanyakan orang – orang sudah berdua. Di pos 2, ada yang sedang mempersiapkan diri dengan matang menuju puncak, ada yang masih memperdebatkan ini itu, ada juga yang masih asik menikmati pemandangan di pos 2. Tapi yang sendiri di pos 2, ada – ada saja motivasinya. Ada yang senang lihat yang sudah berdua jadi sendiri dan akhirnya turun dari gunung. Ada yang merasa kepepet ingin ke puncak terus melihat yang sudah berdua tapi beda motivasinya,  dan yang sendiri bisa masuk ke yang motivasi ingin segera ke puncak. Lagi – lagi semata ingin segera ke puncak.

Dari pos 2 menuju puncak, jalan yang dilalui benar – benar berat. Ada yang sudah membawa perlengkapan yang sangat memadai untuk menghadapi rintangan di jalan. Ada yang membawa perlengkapan seadanya, ada juga yang meminjam perlengkapan teman atau orang tua atau dari mana sajalah.

Di perjalanan menuju puncak, rintangan banyak. Rintangan bisa membuat orang kendur semangatnya, bahkan hancur seketika. Menghadapi jalan menuju puncak sebenarnya bukan masalah perlengkapan, tapi komitmen. Dengan komitmen, rintangan menuju puncak bisa ditaklukan. 

Lalu pada akhirnya tibalah di puncak. Tapi sayangnya apa yang  orang – orang katakan indahnya puncak tidak begitu. Ada yang puas terharu tetapi ada juga yang kecewa. Indahnya puncak bukan tentang apa yang kita lihat. Memang dari puncak bisa dilihat segalanya. Tapi indahnya ada di dalam pikiran kita. 

Lalu aku adalah seseorang dengan dia yang sedang menuju puncak. Banyak rintangan tapi kami berdua punya komitmen itu. Kami akan menuju ke puncak itu bersama apapun rintangannya.

Tentang indahnya puncak adalah setelahnya. Setelah melihat indahnya puncak, kamu turun dari sana dan menjalani hidup dengan indahnya puncak yang menetap di kepala.

dibungkus jadi banyak

Umumnya kalau beli makanan dibungkus akan lebih banyak apabila dibandingkan dengan kita membeli dan makan di tempat. Di rumah makan Padang katanya sering begitu. Tidak semua masakan jualan yang begitu. Kalau beli ketoprak tidak begitu, gado – gado juga tidak. Biasanya ya pas – pas saja. 

Lalu sama halnya dengan rumah makan Padang adalah mie goreng Balige. Nama tempatnya Bakmi Balige, ada di sekitaran Pulo Mas. Saat membeli mie goreng dan makan di tempat, porsinya ya sepiring cukup. Berbeda halnya ketika beli dibungkus. Ketika sampai rumah dan mulai memakan akan muncul pertanyaan, “kok banyak bener ?”.  Rasa – rasanya ingin bertanya kepada mereka kenapa bisa begitu. Yang paling gampang disyukuri saja dan bertambah gemuklah.

Terkait mie goreng Balige, secara kualitas masih terjaga. Indikasinya jumlah potongan daging babinya masih lebih banyak dibandingkan potongan hati babinya. Beda halnya dengan mie goreng Siantar di sekitaran Terminal Rawamangun yang kebanyakan adalah potongan hati babi dan bakso. Ya semua hanya berdasarkan pengamatan aja sih. Ndak tak riset pake metode ini itu atau sampai signifikan enggaknya jumlah potongan daging babinya terhadap kepuasan pelanggan. Tapi kalo penikmat mie goreng dengan selipan – selipan daging babi diantara mie-nya, jelas selipan – selipan ini penting. 

Sekian.

Tentang Standar Enakmu

Tentang standar enakmu.

Tentang yang enak, ada yang cukup dua puluh lima ribu, seratus ribu bahkan jutaan hingga puluhan juta. Bahkan ada yang mesti hutang sana – sini demi yang enak.

Proses mau enak, ada yang beberapa bulan, beberapa tahun hingga puluhan tahun hingga akhirnya bisa enak. 

Status mau enak, ada yang sekedar pemakai jasa dan penyedia jasa, ada yang diam – diam saja yang penting enak, ada yang mesti pengumuman sana – sini biar enaknya enak.

Prosesi enak juga ada yang gak pake biaya ada yang juga menelan puluhan juta.

Melaksanakan hal yang enak, ada yang mesti numpang orang tua, ngontrak, bahkan ya sudah mapan punya rumah sendiri saja.

Lalu kepalamu mikir. Terlalu cepat dapat enak bingung nanti duitnya. Terlalu lama dapat enak hasil enaknya kasihan juga. Tidak terlalu lama tidak terlalu cepat dapat enak, masalah ya tetap saja ada. 

Ya soal yang enak, tentang standar enakmu, gak mesti semua mengikuti standarmu. Karena untuk enak semua punya standarnya masing – masing.

Lapar di malam hari

Tulisan banyak draft aja belum ada yang di-release. Kalo soal cinta memang begitu. Jadi coba menulis cepat aja.

Lapar di malam hari adalah hal yang jarang terjadi, namun ya terjadi juga. Apalagi kalau membiasakan makan sore dengan porsi yang sedikit. Biar tidak buncit tapi ya masih buncit saja 😂😂😂.

Lalu lapar di malam hari kendalanya adalah inginnya yang ini dan yang itu padahal saya berada di lokasi yang satu jam dari kota Pontianak. Satu jam dari ibukota propinsi Kalimantan Barat berbeda dengan satu jam dari ibukota propinsi di pulau Jawa sana. Inginnya pake ojek online terus makanan sampai di lokasi tapi ya cuma khayalan saya.

Jadi di malam itu, saya tiba – tiba lapar. Saat itu sedang asyik – asyiknya ngobrol dengan si dia. Saya ijin dulu mau beli lauk, ayam penyet. Ayam penyet rada mewah yang jual dekat lokasi ada satu. Ada juga yang lebih mewah, babi panggang karo.

Jadi dengan gerimis yang turun saya melaju motor saya ke Warung Cantik. Iya namanya aja Warung Cantik, jangan tanya cantiknya dimana. Warung ini jadi tempat persinggahan pengendara dari motor sampe truk besar. Sekedar istirahat, minum kopi sampai makan malam.

Sampailah saya di itu warung. “Ada ayam penyet ?”, tanya saya. “Ayamnya ada, cuman yang masak tidak ada”, jawab pelayan di situ. “Kamu nggak bisa masak ?”, begitu saya tanya lagi. Lalu dia geleng – geleng kepala.

Sayapun pergi dengan agak kecewa. Lalu saya mampir ke warung di dekat lokasi. Membeli mie instan dan pulang. Saya rebus itu mie goreng dan saya tambahi nasi sedikit. Kenyang di tengah kecewa. Sekian.