dibungkus jadi banyak

Umumnya kalau beli makanan dibungkus akan lebih banyak apabila dibandingkan dengan kita membeli dan makan di tempat. Di rumah makan Padang katanya sering begitu. Tidak semua masakan jualan yang begitu. Kalau beli ketoprak tidak begitu, gado – gado juga tidak. Biasanya ya pas – pas saja. 

Lalu sama halnya dengan rumah makan Padang adalah mie goreng Balige. Nama tempatnya Bakmi Balige, ada di sekitaran Pulo Mas. Saat membeli mie goreng dan makan di tempat, porsinya ya sepiring cukup. Berbeda halnya ketika beli dibungkus. Ketika sampai rumah dan mulai memakan akan muncul pertanyaan, “kok banyak bener ?”.  Rasa – rasanya ingin bertanya kepada mereka kenapa bisa begitu. Yang paling gampang disyukuri saja dan bertambah gemuklah.

Terkait mie goreng Balige, secara kualitas masih terjaga. Indikasinya jumlah potongan daging babinya masih lebih banyak dibandingkan potongan hati babinya. Beda halnya dengan mie goreng Siantar di sekitaran Terminal Rawamangun yang kebanyakan adalah potongan hati babi dan bakso. Ya semua hanya berdasarkan pengamatan aja sih. Ndak tak riset pake metode ini itu atau sampai signifikan enggaknya jumlah potongan daging babinya terhadap kepuasan pelanggan. Tapi kalo penikmat mie goreng dengan selipan – selipan daging babi diantara mie-nya, jelas selipan – selipan ini penting. 

Sekian.

Tentang Standar Enakmu

Tentang standar enakmu.

Tentang yang enak, ada yang cukup dua puluh lima ribu, seratus ribu bahkan jutaan hingga puluhan juta. Bahkan ada yang mesti hutang sana – sini demi yang enak.

Proses mau enak, ada yang beberapa bulan, beberapa tahun hingga puluhan tahun hingga akhirnya bisa enak. 

Status mau enak, ada yang sekedar pemakai jasa dan penyedia jasa, ada yang diam – diam saja yang penting enak, ada yang mesti pengumuman sana – sini biar enaknya enak.

Prosesi enak juga ada yang gak pake biaya ada yang juga menelan puluhan juta.

Melaksanakan hal yang enak, ada yang mesti numpang orang tua, ngontrak, bahkan ya sudah mapan punya rumah sendiri saja.

Lalu kepalamu mikir. Terlalu cepat dapat enak bingung nanti duitnya. Terlalu lama dapat enak hasil enaknya kasihan juga. Tidak terlalu lama tidak terlalu cepat dapat enak, masalah ya tetap saja ada. 

Ya soal yang enak, tentang standar enakmu, gak mesti semua mengikuti standarmu. Karena untuk enak semua punya standarnya masing – masing.

Lapar di malam hari

Tulisan banyak draft aja belum ada yang di-release. Kalo soal cinta memang begitu. Jadi coba menulis cepat aja.

Lapar di malam hari adalah hal yang jarang terjadi, namun ya terjadi juga. Apalagi kalau membiasakan makan sore dengan porsi yang sedikit. Biar tidak buncit tapi ya masih buncit saja ­čśé­čśé­čśé.

Lalu lapar di malam hari kendalanya adalah inginnya yang ini dan yang itu padahal saya berada di lokasi yang satu jam dari kota Pontianak. Satu jam dari ibukota propinsi Kalimantan Barat berbeda dengan satu jam dari ibukota propinsi di pulau Jawa sana. Inginnya pake ojek online terus makanan sampai di lokasi tapi ya cuma khayalan saya.

Jadi di malam itu, saya tiba – tiba lapar. Saat itu sedang asyik – asyiknya ngobrol dengan si dia. Saya ijin dulu mau beli lauk, ayam penyet. Ayam penyet rada mewah yang jual dekat lokasi ada satu. Ada juga yang lebih mewah, babi panggang karo.

Jadi dengan gerimis yang turun saya melaju motor saya ke Warung Cantik. Iya namanya aja Warung Cantik, jangan tanya cantiknya dimana. Warung ini jadi tempat persinggahan pengendara dari motor sampe truk besar. Sekedar istirahat, minum kopi sampai makan malam.

Sampailah saya di itu warung. “Ada ayam penyet ?”, tanya saya. “Ayamnya ada, cuman yang masak tidak ada”, jawab pelayan di situ. “Kamu nggak bisa masak ?”, begitu saya tanya lagi. Lalu dia geleng – geleng kepala.

Sayapun pergi dengan agak kecewa. Lalu saya mampir ke warung di dekat lokasi. Membeli mie instan dan pulang. Saya rebus itu mie goreng dan saya tambahi nasi sedikit. Kenyang di tengah kecewa. Sekian.

 

New Year New Me ?

Andai sesederhana itu. Setiap memasuki Tahun yang Baru, kita akan menemukan diri kita yang baru. Memiliki semangat yang baru dan hal – hal lain yang juga baru. Tetapi kenyataannya adalah tidak selalu di tahun yang baru kita kan terbaharui. Kita menyusun harapan dan cita – cita ketika memasuki tahun yang baru. Lalu ketika tahun baru hendak berakhir dan kita memandang ke belakang, harapan tinggal harapan, cita – cita tinggal cita – cita.

Lalu tahun ke tahun berulang dan berulang. Kita mendapati bahwa Tahun Baru hanyalah sekedar perpindahan tahun. Kita mendapati bahwa kita hanya mengikuti arus yang ada, walau di pojokan hati memang berharap apa yang menjadi harapan dan cita – cita dapat terwujud di tahun yang baru.

Akupun adalah sama. Memiliki harapan dan cita – cita dan tahun baru. Sembari berusaha lalu keajaiban terjadi. Lalu keajaiban yang dinanti tak kunjung datang. Yang ada adalah dirimu yang tidak bergerak dari tempat yang sama. Merasa tak ingin kecewa, kau mensyukuri saja apa yang didapati.

Melirik ke tahun 2015 memang banyak yang bisa dijadikan evaluasi. Ku pikir ku menemukan jodohku. Ternyata bukan.Kalau sudah keliru begini ya cari lagi yang benar – benar nggak meragu.

Tahun 2016 saya mau nabung ajah yang banyak biar 2017 bisa nikah dengan siapapun dia :).

Selesai.

Day off Oktober Ini

Day off ini, abang gw Erik akhirnya menikah. Menikah dengan kak Rika br Sianipar. Selalu berbahagialah mereka.

IMG_20151010_094153 IMG_20151010_133915

Gw hadir di pemberkatan dan pesta adatnya. Tapi pas di pemberkatannya agak telat sih tapi masih melihat pemberkatannya. Acara adatnya dilangsungkan di Balai Hermina di Mampang Prapatan. Acara berlangsung lancar dan meriah.

IMG_20151010_154841 IMG_20151010_155928

Di setiap acara adat kayak gini, gw selalu meyakini bahwa bangsa Batak adalah bangsa yang berbahagia. Kami suka berdendang dan ber-joget dengan wajah yang tersenyum :D. Meski ada yang nggak joget minimal kaki atau tangan gerak naik turun menikmati musik.

Di acara tersebut gw juga bisa ketemu banyak keluarga. Ketemu Lae Sinurat dan Kak Martha, Vaness dan Adel, Lae Simatupang dan Kak Aa, Nangtua, Bapauda Tihar, Bapauda Gopas, Bapauda Maju beserta istri masing – masing dan anak. Banyaklah. ┬áJuga ketemu dengan Kakak cantik boru Sianturi. Cantik beneran. Tapi gw nya canggung gugup minta ampun. Kalau bertemu lagi semoga sudah nggak canggung lah :))))).

IMG_20151010_113125 IMG_20151010_170246

Day off kali ini selalu ada yang pertama kali. Pertama kali makan di lapo Tondongta sama si Grace. Seumur – umur hidup di Jakarta itu kali pertama kaki gw menginjakan kaki di Tondongta. Juga akhirnya pertama kali menginjakkan kaki di Mall Artha Gading pas ketemu si NinaK. Jadi selalu ada pertama kali untuk segala hal.

yang ini ga ada fotonya

Gw juga jalan sama Chandra beserta Fitri ke Gading. Nyari charger cuman udah tutup terus mau nyoba Kenanga dan juga tutup yang akhirnya berakhir ke depot 369. Depotnya kalem, masakannya juga. Tapi gw baru tau cara nikmatin dimsum kayak gitu dari si Chandra. Dibalik, dicolok terus diisep.

IMG_20151012_190633
Dimsum yang dibalik – balik segala buat nikmatinnya. Babinya bekasam kayaknya.

IMG_20151012_185424

Oh iya sempet jadi anak Kokas dan anak Pasar Santa juga *sekali datang langsung nge-klaim :))). First time juga gw ke sana.

IMG_20151011_140118
Chandra dan Fitri. Love seeing their smile
IMG_20151011_192540
Dian, Chandra dan Fitri menikmati Black Dog dan Cendol.

Ya udah sekian aja. Next gw mau sharing beberapa hal yang bikin gw bertanya, “kok gitu ya ?”.

Sekian

Mesin waktu

Di malam itu. Aku suntuk. Sulit mata ini untuk terpejam. Bangkit dari kasur dan mondar – mandir hingga berakhir di gudang. Kunyalakan lampu. Entah apa aku melihat kotak di atas meja. Kudatangi dan kuperiksa isinya. Ternyata mesin waktu.

Ya mesin waktu. Banyak tombol di dalamnya. Mataku memperhatikan satu – satu yang ada pada mesin waktu itu. Ku tekan salah satu tombol dan zapppppp…

Aku berada di sebuah stasiun kereta. Kuperhatikan sekeliling. Aku pernah berada di sini. Lalu ku menghampiri satpam yang ada di pintu masuk. Ku hendak menanyakan ini dimana.

“Pak..pak..numpang tanya ?”, tanyaku. Si satpam hanya diam.

“Pak..pak..”, coba kusapa dan menepuk bahunya. Tapi yang terjadinya semua tembus. Aku seperti hantu.

Merasa sudah mengetahui apa yang terjadi aku berjalan keluar stasiun. Tak jauh dari pintu gerbang terdapat minimarket. Di depan minimarket itu kudapati dua sosok yang tak asing. Mereka berdua duduk di tangga minimarket sambil menikmati es krim coklat di tangan masing – masing. Mereka berbincang – bincang dan tertawa. Aku melihat sesekali yang satu memandangi yang lainnya dengan seksama. Tidak ada kulihat kesedihan pada mereka. Mereka bahagia. Aku tersenyum melihat ini. dan zapp……

Aku kembali lagi ke gudang. Terkejut sejenak. Heran bahagia. Ku tekan lagi tombol yang lain dan zapp…

Wow. Aku tahu ini. Sea world. Ikan – ikan di balik kaca, manusia – manusia dan dilatari lagu – lagu. Lagu ini, aku tahu lagu ini. Lagi – lagi aku lihat dua sosok itu. Yang satu mendendangkan lagu ini dengan senangnya dan yang kedua tersenyum memandangi yang satu. Lagi – lagi ku tersenyum melihat ini. dan zapp…

Yang terjadi berikutnya adalah sama dan ku mencoba beberapa tombol lagi hingga aku cukup puas. Aku tersenyum dengan mata yang berseri – seri. Ini semua membahagiakan. Menyenangkan. ┬áAku mensyukuri hal – hal baik yang bisa kulihat.┬áKu tutup kotak itu. Ku angkat menuju lemari gudang. Ku simpan ke dalamnya dan ku kunci.

Aku tidak tahu apakah aku akan memerlukan kotak ini lagi. Yang sudah berlalu itu adalah hal yang baik dan akan ku kenang demikian.

Podcast Awal Minggu

Podcast. Definisinya aja gw nggak tau.

Gw nggak pengen ribet dengan istilah. Podcast Awal Minggu adalah sesuatu yang di-upload di awal minggu oleh Komika keren bernama Adriano Qalbi.

Berbicara nama Adriano Qalbi sebagai komika adalah komika yang nggak setenar komika yang aktif di layar kaca maupun di sosmed. Beliau komika yang kritis yang jatahnya bukan untuk layar televisi anda. Sesungguhnya, gw nggak tau banyak. Mungkin materi dia belum untuk masyarakat Indonesia kebanyakan. 10 – 20 tahun lagi mungkin. Mungkin. Lebih.

Berhubung dia nggak tenar, makanya dia bikin Podcast. Dengan demikian dia dapat menjaring pendengar – pendengar fanatiknya untuk mendirikan sebuah organisasi kayak Iluminatti. Makanya pendengarnya makin lama makin dikit. Makin sedikit, makin sedikit hingga hanya orang – orang terpilih yang dapat menjadi saksi ketika sang komika akhirnya gila.

Podcast Awal Minggu.

Podcast Awal Minggu ini berdurasi sekitar 1 jam-an. Di podcast ini kita bisa mendengar om Adri ngoceh tentang banyak hal. Mulai dari soal medsos, cinta – cintaan, bank dan asuransi, empati kampung Pulo, sampe yang terakhir kemarin gw denger adalah tentang lagi rame – ramenya orang – orang cerdas bela – belain korporasi taksi – taksian. Orang udah banyak duit dibelain. Ya jelas menarik.

Di Podcast Awal Minggu ini, Om Adri mengulas dengan se-tai mungkin banyak hal. Se-tai mungkin sehingga lu memutuskan untuk nggak mendengar lagi itu Podcast. Beneran. Di launching awal, pendengarnya sampai 1496, dan yang terakhir kemarin adalah 145. 90%-an turunnya (Ini yang di Yutub). Jelas menarik.

Mungkin akhirnya banyak memutuskan untuk nggak mendengar lagi karena eman 1 jam hidupnya yang berharga terbuang. Atau mungkin lagi – lagi belum nyampe aja. Ini kenapa jadi bahas penurunan ? Kagak penting.

Yang jelas. Mendengar Podcast ini adalah penting. Apalagi yang bosan melihat orang – orang normal di layar kaca. Nggak ada salahnya mendengar. Sekalian latihan, terutama buat yang jomblo – jomblo. Biar nanti pas punya gebetan atau pasangan terbiasa untuk menjadi pendengar yang baik.

This is good for your soul. Jujur.

Podcast Awal Minggu

Itu linknya di yutub. Klo mau follow twitter orangnya @adrianoqalbi.

Sekian dari gw.