Lapar di malam hari

Tulisan banyak draft aja belum ada yang di-release. Kalo soal cinta memang begitu. Jadi coba menulis cepat aja.

Lapar di malam hari adalah hal yang jarang terjadi, namun ya terjadi juga. Apalagi kalau membiasakan makan sore dengan porsi yang sedikit. Biar tidak buncit tapi ya masih buncit saja 😂😂😂.

Lalu lapar di malam hari kendalanya adalah inginnya yang ini dan yang itu padahal saya berada di lokasi yang satu jam dari kota Pontianak. Satu jam dari ibukota propinsi Kalimantan Barat berbeda dengan satu jam dari ibukota propinsi di pulau Jawa sana. Inginnya pake ojek online terus makanan sampai di lokasi tapi ya cuma khayalan saya.

Jadi di malam itu, saya tiba – tiba lapar. Saat itu sedang asyik – asyiknya ngobrol dengan si dia. Saya ijin dulu mau beli lauk, ayam penyet. Ayam penyet rada mewah yang jual dekat lokasi ada satu. Ada juga yang lebih mewah, babi panggang karo.

Jadi dengan gerimis yang turun saya melaju motor saya ke Warung Cantik. Iya namanya aja Warung Cantik, jangan tanya cantiknya dimana. Warung ini jadi tempat persinggahan pengendara dari motor sampe truk besar. Sekedar istirahat, minum kopi sampai makan malam.

Sampailah saya di itu warung. “Ada ayam penyet ?”, tanya saya. “Ayamnya ada, cuman yang masak tidak ada”, jawab pelayan di situ. “Kamu nggak bisa masak ?”, begitu saya tanya lagi. Lalu dia geleng – geleng kepala.

Sayapun pergi dengan agak kecewa. Lalu saya mampir ke warung di dekat lokasi. Membeli mie instan dan pulang. Saya rebus itu mie goreng dan saya tambahi nasi sedikit. Kenyang di tengah kecewa. Sekian.

 

New Year New Me ?

Andai sesederhana itu. Setiap memasuki Tahun yang Baru, kita akan menemukan diri kita yang baru. Memiliki semangat yang baru dan hal – hal lain yang juga baru. Tetapi kenyataannya adalah tidak selalu di tahun yang baru kita kan terbaharui. Kita menyusun harapan dan cita – cita ketika memasuki tahun yang baru. Lalu ketika tahun baru hendak berakhir dan kita memandang ke belakang, harapan tinggal harapan, cita – cita tinggal cita – cita.

Lalu tahun ke tahun berulang dan berulang. Kita mendapati bahwa Tahun Baru hanyalah sekedar perpindahan tahun. Kita mendapati bahwa kita hanya mengikuti arus yang ada, walau di pojokan hati memang berharap apa yang menjadi harapan dan cita – cita dapat terwujud di tahun yang baru.

Akupun adalah sama. Memiliki harapan dan cita – cita dan tahun baru. Sembari berusaha lalu keajaiban terjadi. Lalu keajaiban yang dinanti tak kunjung datang. Yang ada adalah dirimu yang tidak bergerak dari tempat yang sama. Merasa tak ingin kecewa, kau mensyukuri saja apa yang didapati.

Melirik ke tahun 2015 memang banyak yang bisa dijadikan evaluasi. Ku pikir ku menemukan jodohku. Ternyata bukan.Kalau sudah keliru begini ya cari lagi yang benar – benar nggak meragu.

Tahun 2016 saya mau nabung ajah yang banyak biar 2017 bisa nikah dengan siapapun dia🙂.

Selesai.

Day off Oktober Ini

Day off ini, abang gw Erik akhirnya menikah. Menikah dengan kak Rika br Sianipar. Selalu berbahagialah mereka.

IMG_20151010_094153 IMG_20151010_133915

Gw hadir di pemberkatan dan pesta adatnya. Tapi pas di pemberkatannya agak telat sih tapi masih melihat pemberkatannya. Acara adatnya dilangsungkan di Balai Hermina di Mampang Prapatan. Acara berlangsung lancar dan meriah.

IMG_20151010_154841 IMG_20151010_155928

Di setiap acara adat kayak gini, gw selalu meyakini bahwa bangsa Batak adalah bangsa yang berbahagia. Kami suka berdendang dan ber-joget dengan wajah yang tersenyum😀. Meski ada yang nggak joget minimal kaki atau tangan gerak naik turun menikmati musik.

Di acara tersebut gw juga bisa ketemu banyak keluarga. Ketemu Lae Sinurat dan Kak Martha, Vaness dan Adel, Lae Simatupang dan Kak Aa, Nangtua, Bapauda Tihar, Bapauda Gopas, Bapauda Maju beserta istri masing – masing dan anak. Banyaklah.  Juga ketemu dengan Kakak cantik boru Sianturi. Cantik beneran. Tapi gw nya canggung gugup minta ampun. Kalau bertemu lagi semoga sudah nggak canggung lah :))))).

IMG_20151010_113125 IMG_20151010_170246

Day off kali ini selalu ada yang pertama kali. Pertama kali makan di lapo Tondongta sama si Grace. Seumur – umur hidup di Jakarta itu kali pertama kaki gw menginjakan kaki di Tondongta. Juga akhirnya pertama kali menginjakkan kaki di Mall Artha Gading pas ketemu si NinaK. Jadi selalu ada pertama kali untuk segala hal.

yang ini ga ada fotonya

Gw juga jalan sama Chandra beserta Fitri ke Gading. Nyari charger cuman udah tutup terus mau nyoba Kenanga dan juga tutup yang akhirnya berakhir ke depot 369. Depotnya kalem, masakannya juga. Tapi gw baru tau cara nikmatin dimsum kayak gitu dari si Chandra. Dibalik, dicolok terus diisep.

IMG_20151012_190633
Dimsum yang dibalik – balik segala buat nikmatinnya. Babinya bekasam kayaknya.

IMG_20151012_185424

Oh iya sempet jadi anak Kokas dan anak Pasar Santa juga *sekali datang langsung nge-klaim :))). First time juga gw ke sana.

IMG_20151011_140118
Chandra dan Fitri. Love seeing their smile
IMG_20151011_192540
Dian, Chandra dan Fitri menikmati Black Dog dan Cendol.

Ya udah sekian aja. Next gw mau sharing beberapa hal yang bikin gw bertanya, “kok gitu ya ?”.

Sekian

Mesin waktu

Di malam itu. Aku suntuk. Sulit mata ini untuk terpejam. Bangkit dari kasur dan mondar – mandir hingga berakhir di gudang. Kunyalakan lampu. Entah apa aku melihat kotak di atas meja. Kudatangi dan kuperiksa isinya. Ternyata mesin waktu.

Ya mesin waktu. Banyak tombol di dalamnya. Mataku memperhatikan satu – satu yang ada pada mesin waktu itu. Ku tekan salah satu tombol dan zapppppp…

Aku berada di sebuah stasiun kereta. Kuperhatikan sekeliling. Aku pernah berada di sini. Lalu ku menghampiri satpam yang ada di pintu masuk. Ku hendak menanyakan ini dimana.

“Pak..pak..numpang tanya ?”, tanyaku. Si satpam hanya diam.

“Pak..pak..”, coba kusapa dan menepuk bahunya. Tapi yang terjadinya semua tembus. Aku seperti hantu.

Merasa sudah mengetahui apa yang terjadi aku berjalan keluar stasiun. Tak jauh dari pintu gerbang terdapat minimarket. Di depan minimarket itu kudapati dua sosok yang tak asing. Mereka berdua duduk di tangga minimarket sambil menikmati es krim coklat di tangan masing – masing. Mereka berbincang – bincang dan tertawa. Aku melihat sesekali yang satu memandangi yang lainnya dengan seksama. Tidak ada kulihat kesedihan pada mereka. Mereka bahagia. Aku tersenyum melihat ini. dan zapp……

Aku kembali lagi ke gudang. Terkejut sejenak. Heran bahagia. Ku tekan lagi tombol yang lain dan zapp…

Wow. Aku tahu ini. Sea world. Ikan – ikan di balik kaca, manusia – manusia dan dilatari lagu – lagu. Lagu ini, aku tahu lagu ini. Lagi – lagi aku lihat dua sosok itu. Yang satu mendendangkan lagu ini dengan senangnya dan yang kedua tersenyum memandangi yang satu. Lagi – lagi ku tersenyum melihat ini. dan zapp…

Yang terjadi berikutnya adalah sama dan ku mencoba beberapa tombol lagi hingga aku cukup puas. Aku tersenyum dengan mata yang berseri – seri. Ini semua membahagiakan. Menyenangkan.  Aku mensyukuri hal – hal baik yang bisa kulihat. Ku tutup kotak itu. Ku angkat menuju lemari gudang. Ku simpan ke dalamnya dan ku kunci.

Aku tidak tahu apakah aku akan memerlukan kotak ini lagi. Yang sudah berlalu itu adalah hal yang baik dan akan ku kenang demikian.

Podcast Awal Minggu

Podcast. Definisinya aja gw nggak tau.

Gw nggak pengen ribet dengan istilah. Podcast Awal Minggu adalah sesuatu yang di-upload di awal minggu oleh Komika keren bernama Adriano Qalbi.

Berbicara nama Adriano Qalbi sebagai komika adalah komika yang nggak setenar komika yang aktif di layar kaca maupun di sosmed. Beliau komika yang kritis yang jatahnya bukan untuk layar televisi anda. Sesungguhnya, gw nggak tau banyak. Mungkin materi dia belum untuk masyarakat Indonesia kebanyakan. 10 – 20 tahun lagi mungkin. Mungkin. Lebih.

Berhubung dia nggak tenar, makanya dia bikin Podcast. Dengan demikian dia dapat menjaring pendengar – pendengar fanatiknya untuk mendirikan sebuah organisasi kayak Iluminatti. Makanya pendengarnya makin lama makin dikit. Makin sedikit, makin sedikit hingga hanya orang – orang terpilih yang dapat menjadi saksi ketika sang komika akhirnya gila.

Podcast Awal Minggu.

Podcast Awal Minggu ini berdurasi sekitar 1 jam-an. Di podcast ini kita bisa mendengar om Adri ngoceh tentang banyak hal. Mulai dari soal medsos, cinta – cintaan, bank dan asuransi, empati kampung Pulo, sampe yang terakhir kemarin gw denger adalah tentang lagi rame – ramenya orang – orang cerdas bela – belain korporasi taksi – taksian. Orang udah banyak duit dibelain. Ya jelas menarik.

Di Podcast Awal Minggu ini, Om Adri mengulas dengan se-tai mungkin banyak hal. Se-tai mungkin sehingga lu memutuskan untuk nggak mendengar lagi itu Podcast. Beneran. Di launching awal, pendengarnya sampai 1496, dan yang terakhir kemarin adalah 145. 90%-an turunnya (Ini yang di Yutub). Jelas menarik.

Mungkin akhirnya banyak memutuskan untuk nggak mendengar lagi karena eman 1 jam hidupnya yang berharga terbuang. Atau mungkin lagi – lagi belum nyampe aja. Ini kenapa jadi bahas penurunan ? Kagak penting.

Yang jelas. Mendengar Podcast ini adalah penting. Apalagi yang bosan melihat orang – orang normal di layar kaca. Nggak ada salahnya mendengar. Sekalian latihan, terutama buat yang jomblo – jomblo. Biar nanti pas punya gebetan atau pasangan terbiasa untuk menjadi pendengar yang baik.

This is good for your soul. Jujur.

Podcast Awal Minggu

Itu linknya di yutub. Klo mau follow twitter orangnya @adrianoqalbi.

Sekian dari gw.

Mengingini yang bukan milikmu

Di sela – sela kurang ide dan semangat untuk menulis, akhirnya ada juga bahan untuk ditulis.

Perihal mengingini yang bukan milik kita adalah hal yang sering saya temukan di keseharian saya. Beberapa waktu yang lalu, sewaktu turun ke Pontianak saya menyempatkan mencari sandal baru untuk saya gunakan di Distrik. Biasanya, ketika di sekitaran Mess ataupun kantor, saya dan yang lainnya “nyeker” aja dari satu tempat ke tempat lainnya.

Akhirnya sandal sudah saya beli. Merk Eiger. Sendalnya nyaman. Awal saya kira sempit tetapi lama – kelamaan saya pakai tidak lagi terasa sempit. Tali sendalnya berwarna hijau muda. Kayak berpendar tetapi tidak. Sudah saya coba matikan lampu kamar di malam hari, talinya tidak berpendar.

Mulailah saya menggunakan sandal ini dari Mess ke kantor. Saya merasa optimis bahwa sandal saya akan biasa – biasa saja dan hanya akan saya saja yang memakai. Beberapa hari berlalu, memang hanya saya yang pakai. Namun ada beberapa kejadian yang mulai membuat saya tidak nyaman ketika sandal saya mulai tidak ada di tempatnya.

Saya lupa hari tapi saya ingat kejadiannya ketika seharian penuh itu sandal tidak kelihatan. Awal saya kira mungkin ada teman yang memakai untuk ke musholla. Tetapi hingga sore dan malam menjelang itu sandal tidak kunjung kembali ke tempat semula atau dimanapun di sekitar kantor. Berpikir lagi mungkin ada tenaga penanaman yang membawa dan esoknya akan dikembalikan. Esok datang, sandal pun belum juga datang. Di saat kehilangan seperti ini, saya menerapkan berpikiran positif bahwa itu sandal pasti balik. Setelah beberapa hari, saya ikhlas itu sandal  tidak kembali. Beberapa saat saya hendak menyumpah tapi tiada guna juga.

Hari berlalu dan tibalah pada suatu pagi kami karyawan sarapan bersama di kantin. Selesai sarapan kami, biasanya kami berbincang – bincang. Tentang apapun. Di awal pagi itu, adaptor fingerprint copot dan hilang entah kemana. Pelakunya ? Tiada yang tahu. Berkenaan dengan hilang itu mulailah kami berbicara tentang hal – hal kehilangan di kantor. Tiba saatnya saya ketika saya berbicara tentang kehilangan sandal saya. Teman mulai bertanya mulai dari merk hingga warna. Ternyata dia menyimpan sandal itu. Dia melihat sandal itu berhari – hari di jalan. Saya tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi fakta bahwa sandal saya baik – baik saja membuat saya senang.

Tak lama dari pagi itu, sandal saya sudah hilang lagi. “Duh, ini sandal kemana lagi ?”, itu saya sambil garuk – garuk kepala. Sore agak malam sandal saya sudah kembali lagi. Ternyata dibawa pergi ke Distrik sebelah. Lucunya adalah teman yang membawa itu sandal ijin ke teman saya dan bukan ke saya. Bagaimana bisa meminta ijin memakai barang milik kamu tetapi ijinnya ke orang lain ?

Setelahnya dan setelahnya yang terjadi adalah saya menemukan sandal saya suka berpindah.  Sekarang, sandal itu sudah saya cuci dan simpan di kamar karena Sabtu ini saya hendak turun ke Pontianak. Mau rehat sejenak di kota. Butuh kebisingan dan orang – orang.

Kejadian – kejadian ini coba saya kaitkan dengan rasa mengingini bahkan memiliki. Di kesehariannya, saya dan teman – teman terbiasa “nyeker”. Debu tanah tidak menjadi masalah bagi telapak kaki kami. Lalu sandal saya ada, kenapa beberapa tiba – tiba merasa kakinya harus bersih dengan barang milik orang lain. Kenapa hal sekecil  ini harus saya lihat sebagai masalah ? Karena segala bermula dari hal yang kecil. Itu aja. Sekian.

Kebaikan – kebaikan

IMG_20150907_144735[1]

Foto diambil di Pontianak, dimana kota ini sedang diselimuti asap. Lalu hujan turun membasahi tembok – tembok.

Dari beberapa waktu yang telah berjalan, orang datang dengan kebaikan – kebaikan. Orang – orang mencoba menolong dengan memperkenalkan ini dan itu. Sesaat, mungkin itu yang gw butuhin, kenal orang – orang baru. Tapi sebenarnya gw sendiri nggak tahu apa yang gw butuhin. Gw butuh orang atau malah sebenarnya gw butuh sendiri aja. Gw mencoba menghargai semua kebaikan yang datang dari teman – teman. Tetapi ada juga kebaikan yang malah membawa gw kepada ketidakgembiraan. Tapi gw mencoba masa bodo dengan semua hal – hal itu. Satu ketidakgembiraan yang datang tidak lantas mengubah apa – apa.

Sama halnya dengan seekor anjing yang ditimpuki. Satu timpukan dari orang yang tidak suka tidak akan mengubah apa – apa, hanya menambah jumlah saja. Tapi satu kepedulian seseorang yang datang dan memutuskan merawatnya mungkin bisa mengubah segalanya.

Belum lagi dengan beban – beban yang tidak terlihat di pundak ini. Jujur gw merasa menjadi orang yang nggak bersemangat. Anak pertama dari seorang Batak dengan adik gw yang sudah menikah. Dengan kondisi yang kayak gini juga gw mesti memahami orang lain. Memahami orang yang mencoba menghibur tapi sebenarnya malah makin bikin sakit aja. Bebas dah.

Untuk sekarang, gw nggak akan mengakui diri gw sebagai orang yang bahagia. Kalaupun gw tersenyum, ya namanya juga usaha :)))). Ya mungkin dengan kesabaran yang sudah – sudah, kebahagiaan itu kan datang.

Ya sudah. Ini asap di Kalbar ada di mana – mana. Uhuk – uhuk.