Love stupid Stupid Love

Ada dua orang, Andre dan Heidi.

Andre adalah lelaki yang biasa saja berpenampilan. Dia cerdas, memiliki pandangannya sendiri tentang banyak hal. Dia banyak membaca dan terbentuk dari apa yang ia baca. Dia mempercayai jodoh sudah ada yang atur dan lain sebagainya itu. Dia mudah percaya. Dia tahu ada yang salah, namun dia memilih melihat sesuatu sampai akhir. Dia juga tahu akan hal buruk yang akan menimpanya dan dia memilih untuk menerima daripada lari darinya.

Heidi adalah wanita muda yang juga berpenampilan biasa saja. Dia juga cerdas. Dia memilih menjadi pengajar dibandingkan mengejar sesuatu yang lebih tinggi lagi. Dia belajar mengatur dirinya, mempersiapkan dirinya jika nanti kelak menjadi istri, menjadi ibu dari sebuah keluarga. Dia sederhana dan percaya tentang jodoh yang dari Tuhan. 

Lalu Andre dan Heidi jatuh cinta.

Andre sibuk sebagai kepala proyek kemanusiaan di pelosok – pelosok negeri. Hari – harinya dipenuhi perjalanan ke desa – desa, dusun – dusun yang tidak banyak orang tahu. Dia memilih pekerjaan ini karena itu yang dia inginkan sejak dahulu walaupun kuliah yang dia ambil tidak ada kaitannya, begitu kata orang – orang. Tetapi Andre sedari dahulu memang orang yang melibatkan dirinya kepada kemanusiaan. 

Delon adalah teman kerja Andre. Satu pelatihan dengan Andre, tapi mereka jarang bersama – sama di satu lokasi. Delon mengenalkan Andre kepada seseorang, Arina. Arina teman Delon. Lalu Andre berkenalan dengan Arina. Arina seorang pegawai di perusahaan makanan terkenal di Jakarta. Ya, Andre dimana Arina di Jakarta. Perkenalan mereka ya hanya melalui handphone. Chatting dan ngobrol banyak untuk mencari kecocokan dan chemistry di antara mereka. Sejauh itu, mereka nyambung dan nyaman. Jatuh cinta ? Bisa jadi. Lalu mereka bertemu di Jakarta, mereka ungkap perasaan dan pacaran. Seminggu kemudian Andre pun kembali lagi pada pekerjaannya. Masuk lagi ke pelosok – pelosok dan jauh dari Arina. 

Heidi sedang menjelaskan dengan detail bagaimana makanan yang masuk ke dalam mulut diproses hingga berakhir di kloset, kepada murid – muridnya di SMP Mulia, Surabaya. Heidi menjelaskan semuanya dalam bahasa inggris. Murid – muridnya, memahami. Selepas mengajar dia kembali ke kos yang tidak jauh dari sekolahnya. Beristirahat, ambil jemuran, nyetrika, nonton drama korea, mandi, makan malam, cek tugas murid – murid, nyambi chatting sama teman, baca renungan, doa, dan tidur.

Lalu muncul Hilman *manusia lembah (apaan sih ?). Hilman bekerja di salah satu perusahaan negara di Jakarta. Dia seorang pegawai kontrak. Heidi dan Hilman bertemu di Surabaya. Saat itu Hilman pergi mengunjungi orang tuanya yang sedang sakit. Heidi dan Hilman bertemu di swalayan. Saat itu Hilman melihat Heidi dan seperti orang – orang katakan “Cinta pada pandangan pertama”. Saat itu Heidi sedang memilih – milih bahan masakan. Hilman menghampiri. Hilman menanyakan apa saja dan dia mendapat nomor handphone Heidi. Hilman kembali ke Jakarta dan Heidi kembali mengajar. Rutinitas Heidi bertambah di malam hari, ngobrol dengan Hilman di telepon. Hari – hari Heidi lebih ceria. Hilman datang lagi ke Surabaya dan mereka pacaran. Hilamn kembali lagi ke Jakarta dan Heidi kembali mengajar.

Andre dan Arina mulai merencanakan masa depan mereka. Mulai menabung untuk nantinya membeli rumah. Hubungan mereka sudah cukup lama. Sedari awal, Andre memandang hubungan mereka dengan serius. Dia tidak akan mau pacaran kalau akhirnya tidak ke pernikahan. Beberapa bulan sekali mereka bertemu. Di awal semua begitu menyenangkan, semakin jauh semua semakin berat untuk Arina. Membayangkan Andre dimana dan Arina dimana setelah menikah nanti adalah hal tak diingini orang tuanya. Arina pun sependapat dengan orang tuanya. Andre pun sembari ke pelosok – pelosok mencoba mencari pekerjaan di Jakarta. Beberapa kali ada panggilan hingga wawancara, namun belum ada jawaban untuk usahanya. Semua mulai pudar. Andre masih berpengharapan. Masih percaya sesuatu yang baik akan terjadi kepada mereka berdua. Andre tetap menjaga dirinya hanya untuk Arina, tetap menjaga perasaannya hanya untuk Arina.  Ternyata sesuatu yang baik itu adalah Arina meninggalkannya. Mimpi – mimpi Andre runtuh.

Heidi dan Hilman bertemu hanya ketika Hilman ke Surabaya. Sudah sewajarnya lelaki yang mendatangi. Waktu pun terus berlalu. Hilman jarang menghubungi. Dihubungi pun Hilman jarang membalas. Ketika hendak ngobrol di malam hari, Hilman capek kerja seharian. Heidi tidak tahu apa yang terjadi. Beberapa teman memberi masukan tentang yang terjadi, Heidi tidak ambil percaya tentang omongan orang – orang. Hingga akhirnya Hilman diangkat menjadi pegawai tetap. Hilman bercerita malah gajinya berkurang setelah diangkat menjadi pegawai tetap. Heidi tidak peduli tentang hal itu. Heidi menyinggung tentang masa depan mereka berdua. Hilman mau ajak dia kemana ? Heidi berpengharapan kepada Tuhan. Hingga akhirnya Hilman mengatakan tidak enakan dan akhirnya meninggalkan Heidi. Heidi tetap kembali mengajar.

Andre dan Heidi percaya pada cinta yang lugu. Jarak bukan masalah asal tetap cinta. Melakukan yang terbaik dalam hubungannya dan menyenderkannya para Tuhan. Cinta itu medan perang. Ada yang berusaha bertahan dan ada yang berusaha merenggut. Sebagai yang bertahan, Andre dan Heidi tak menyadari semua itu bisa direnggut dan hilang. Paling tidak mereka sudah sangat baik dalam bertahan. Perang berikutnya mereka bisa

Advertisements

Semuanya bakal keren banget di atas sana

Ada gunung. Gunung yang hanya boleh dicapai puncaknya oleh dua orang saja. Di puncaknya kamu bisa melihat segalanya. 

Untuk mencapai puncaknya, melalui jalan setapak dan dua pos. Ada yang dari bawah gunung sudah membawa teman yang dari awal sebelum mendaki memang ingin memuncak bersama, ada pula yang memang seorang diri dengan perlengkapan yang memadai, berharap – harap bertemu siapapun dan bisa menuju puncak bersamanya, ada juga yang semboyannya yang penting bisa melihat puncak, entah dia  awalnya sendiri ataupun dengan teman. Motivasi tiap orang untuk mencapai puncak bisa berbeda – beda.

Di pos 1, pos awal, banyak sekali orang – orang disana. Ada yang sendiri dan ada yang sudah berdua. Yang sendiri bisa mencari – temannya dari sini. Bisa sebentar ketemu, bisa juga lama. Ya disini yang mantap sudah berdua bisa langsung jalan dan apa saja bisa terjadi. 

Dari pos 1 terus menelusuri jalan setapak hingga akhirnya tiba di pos 2. Di pos 2 kebanyakan orang – orang sudah berdua. Di pos 2, ada yang sedang mempersiapkan diri dengan matang menuju puncak, ada yang masih memperdebatkan ini itu, ada juga yang masih asik menikmati pemandangan di pos 2. Tapi yang sendiri di pos 2, ada – ada saja motivasinya. Ada yang senang lihat yang sudah berdua jadi sendiri dan akhirnya turun dari gunung. Ada yang merasa kepepet ingin ke puncak terus melihat yang sudah berdua tapi beda motivasinya,  dan yang sendiri bisa masuk ke yang motivasi ingin segera ke puncak. Lagi – lagi semata ingin segera ke puncak.

Dari pos 2 menuju puncak, jalan yang dilalui benar – benar berat. Ada yang sudah membawa perlengkapan yang sangat memadai untuk menghadapi rintangan di jalan. Ada yang membawa perlengkapan seadanya, ada juga yang meminjam perlengkapan teman atau orang tua atau dari mana sajalah.

Di perjalanan menuju puncak, rintangan banyak. Rintangan bisa membuat orang kendur semangatnya, bahkan hancur seketika. Menghadapi jalan menuju puncak sebenarnya bukan masalah perlengkapan, tapi komitmen. Dengan komitmen, rintangan menuju puncak bisa ditaklukan. 

Lalu pada akhirnya tibalah di puncak. Tapi sayangnya apa yang  orang – orang katakan indahnya puncak tidak begitu. Ada yang puas terharu tetapi ada juga yang kecewa. Indahnya puncak bukan tentang apa yang kita lihat. Memang dari puncak bisa dilihat segalanya. Tapi indahnya ada di dalam pikiran kita. 

Lalu aku adalah seseorang dengan dia yang sedang menuju puncak. Banyak rintangan tapi kami berdua punya komitmen itu. Kami akan menuju ke puncak itu bersama apapun rintangannya.

Tentang indahnya puncak adalah setelahnya. Setelah melihat indahnya puncak, kamu turun dari sana dan menjalani hidup dengan indahnya puncak yang menetap di kepala.

dibungkus jadi banyak

Umumnya kalau beli makanan dibungkus akan lebih banyak apabila dibandingkan dengan kita membeli dan makan di tempat. Di rumah makan Padang katanya sering begitu. Tidak semua masakan jualan yang begitu. Kalau beli ketoprak tidak begitu, gado – gado juga tidak. Biasanya ya pas – pas saja. 

Lalu sama halnya dengan rumah makan Padang adalah mie goreng Balige. Nama tempatnya Bakmi Balige, ada di sekitaran Pulo Mas. Saat membeli mie goreng dan makan di tempat, porsinya ya sepiring cukup. Berbeda halnya ketika beli dibungkus. Ketika sampai rumah dan mulai memakan akan muncul pertanyaan, “kok banyak bener ?”.  Rasa – rasanya ingin bertanya kepada mereka kenapa bisa begitu. Yang paling gampang disyukuri saja dan bertambah gemuklah.

Terkait mie goreng Balige, secara kualitas masih terjaga. Indikasinya jumlah potongan daging babinya masih lebih banyak dibandingkan potongan hati babinya. Beda halnya dengan mie goreng Siantar di sekitaran Terminal Rawamangun yang kebanyakan adalah potongan hati babi dan bakso. Ya semua hanya berdasarkan pengamatan aja sih. Ndak tak riset pake metode ini itu atau sampai signifikan enggaknya jumlah potongan daging babinya terhadap kepuasan pelanggan. Tapi kalo penikmat mie goreng dengan selipan – selipan daging babi diantara mie-nya, jelas selipan – selipan ini penting. 

Sekian.

Tentang Standar Enakmu

Tentang standar enakmu.

Tentang yang enak, ada yang cukup dua puluh lima ribu, seratus ribu bahkan jutaan hingga puluhan juta. Bahkan ada yang mesti hutang sana – sini demi yang enak.

Proses mau enak, ada yang beberapa bulan, beberapa tahun hingga puluhan tahun hingga akhirnya bisa enak. 

Status mau enak, ada yang sekedar pemakai jasa dan penyedia jasa, ada yang diam – diam saja yang penting enak, ada yang mesti pengumuman sana – sini biar enaknya enak.

Prosesi enak juga ada yang gak pake biaya ada yang juga menelan puluhan juta.

Melaksanakan hal yang enak, ada yang mesti numpang orang tua, ngontrak, bahkan ya sudah mapan punya rumah sendiri saja.

Lalu kepalamu mikir. Terlalu cepat dapat enak bingung nanti duitnya. Terlalu lama dapat enak hasil enaknya kasihan juga. Tidak terlalu lama tidak terlalu cepat dapat enak, masalah ya tetap saja ada. 

Ya soal yang enak, tentang standar enakmu, gak mesti semua mengikuti standarmu. Karena untuk enak semua punya standarnya masing – masing.

Lapar di malam hari

Tulisan banyak draft aja belum ada yang di-release. Kalo soal cinta memang begitu. Jadi coba menulis cepat aja.

Lapar di malam hari adalah hal yang jarang terjadi, namun ya terjadi juga. Apalagi kalau membiasakan makan sore dengan porsi yang sedikit. Biar tidak buncit tapi ya masih buncit saja ­čśé­čśé­čśé.

Lalu lapar di malam hari kendalanya adalah inginnya yang ini dan yang itu padahal saya berada di lokasi yang satu jam dari kota Pontianak. Satu jam dari ibukota propinsi Kalimantan Barat berbeda dengan satu jam dari ibukota propinsi di pulau Jawa sana. Inginnya pake ojek online terus makanan sampai di lokasi tapi ya cuma khayalan saya.

Jadi di malam itu, saya tiba – tiba lapar. Saat itu sedang asyik – asyiknya ngobrol dengan si dia. Saya ijin dulu mau beli lauk, ayam penyet. Ayam penyet rada mewah yang jual dekat lokasi ada satu. Ada juga yang lebih mewah, babi panggang karo.

Jadi dengan gerimis yang turun saya melaju motor saya ke Warung Cantik. Iya namanya aja Warung Cantik, jangan tanya cantiknya dimana. Warung ini jadi tempat persinggahan pengendara dari motor sampe truk besar. Sekedar istirahat, minum kopi sampai makan malam.

Sampailah saya di itu warung. “Ada ayam penyet ?”, tanya saya. “Ayamnya ada, cuman yang masak tidak ada”, jawab pelayan di situ. “Kamu nggak bisa masak ?”, begitu saya tanya lagi. Lalu dia geleng – geleng kepala.

Sayapun pergi dengan agak kecewa. Lalu saya mampir ke warung di dekat lokasi. Membeli mie instan dan pulang. Saya rebus itu mie goreng dan saya tambahi nasi sedikit. Kenyang di tengah kecewa. Sekian.

 

New Year New Me ?

Andai sesederhana itu. Setiap memasuki Tahun yang Baru, kita akan menemukan diri kita yang baru. Memiliki semangat yang baru dan hal – hal lain yang juga baru. Tetapi kenyataannya adalah tidak selalu di tahun yang baru kita kan terbaharui. Kita menyusun harapan dan cita – cita ketika memasuki tahun yang baru. Lalu ketika tahun baru hendak berakhir dan kita memandang ke belakang, harapan tinggal harapan, cita – cita tinggal cita – cita.

Lalu tahun ke tahun berulang dan berulang. Kita mendapati bahwa Tahun Baru hanyalah sekedar perpindahan tahun. Kita mendapati bahwa kita hanya mengikuti arus yang ada, walau di pojokan hati memang berharap apa yang menjadi harapan dan cita – cita dapat terwujud di tahun yang baru.

Akupun adalah sama. Memiliki harapan dan cita – cita dan tahun baru. Sembari berusaha lalu keajaiban terjadi. Lalu keajaiban yang dinanti tak kunjung datang. Yang ada adalah dirimu yang tidak bergerak dari tempat yang sama. Merasa tak ingin kecewa, kau mensyukuri saja apa yang didapati.

Melirik ke tahun 2015 memang banyak yang bisa dijadikan evaluasi. Ku pikir ku menemukan jodohku. Ternyata bukan.Kalau sudah keliru begini ya cari lagi yang benar – benar nggak meragu.

Tahun 2016 saya mau nabung ajah yang banyak biar 2017 bisa nikah dengan siapapun dia :).

Selesai.

Day off Oktober Ini

Day off ini, abang gw Erik akhirnya menikah. Menikah dengan kak Rika br Sianipar. Selalu berbahagialah mereka.

IMG_20151010_094153 IMG_20151010_133915

Gw hadir di pemberkatan dan pesta adatnya. Tapi pas di pemberkatannya agak telat sih tapi masih melihat pemberkatannya. Acara adatnya dilangsungkan di Balai Hermina di Mampang Prapatan. Acara berlangsung lancar dan meriah.

IMG_20151010_154841 IMG_20151010_155928

Di setiap acara adat kayak gini, gw selalu meyakini bahwa bangsa Batak adalah bangsa yang berbahagia. Kami suka berdendang dan ber-joget dengan wajah yang tersenyum :D. Meski ada yang nggak joget minimal kaki atau tangan gerak naik turun menikmati musik.

Di acara tersebut gw juga bisa ketemu banyak keluarga. Ketemu Lae Sinurat dan Kak Martha, Vaness dan Adel, Lae Simatupang dan Kak Aa, Nangtua, Bapauda Tihar, Bapauda Gopas, Bapauda Maju beserta istri masing – masing dan anak. Banyaklah. ┬áJuga ketemu dengan Kakak cantik boru Sianturi. Cantik beneran. Tapi gw nya canggung gugup minta ampun. Kalau bertemu lagi semoga sudah nggak canggung lah :))))).

IMG_20151010_113125 IMG_20151010_170246

Day off kali ini selalu ada yang pertama kali. Pertama kali makan di lapo Tondongta sama si Grace. Seumur – umur hidup di Jakarta itu kali pertama kaki gw menginjakan kaki di Tondongta. Juga akhirnya pertama kali menginjakkan kaki di Mall Artha Gading pas ketemu si NinaK. Jadi selalu ada pertama kali untuk segala hal.

yang ini ga ada fotonya

Gw juga jalan sama Chandra beserta Fitri ke Gading. Nyari charger cuman udah tutup terus mau nyoba Kenanga dan juga tutup yang akhirnya berakhir ke depot 369. Depotnya kalem, masakannya juga. Tapi gw baru tau cara nikmatin dimsum kayak gitu dari si Chandra. Dibalik, dicolok terus diisep.

IMG_20151012_190633
Dimsum yang dibalik – balik segala buat nikmatinnya. Babinya bekasam kayaknya.

IMG_20151012_185424

Oh iya sempet jadi anak Kokas dan anak Pasar Santa juga *sekali datang langsung nge-klaim :))). First time juga gw ke sana.

IMG_20151011_140118
Chandra dan Fitri. Love seeing their smile
IMG_20151011_192540
Dian, Chandra dan Fitri menikmati Black Dog dan Cendol.

Ya udah sekian aja. Next gw mau sharing beberapa hal yang bikin gw bertanya, “kok gitu ya ?”.

Sekian