Selamat Ulang Tahun ya..Surabaya

Menginjakkan kaki di kota ini, mungkin tak jauh berbeda rasanya dengan menginjakkan kaki di mars. Penuh rasa ketidaktahuan. Mereka sebut kota ini Surabaya. Tempat aku berdiri sekarang dekat dengan papan nama besar yang bertuliskan stasiun Pasar Turi. Stasiun yang ratusan kilometer jauhnya dari Jakarta. Daripada aku diam dan mati, lebih baik aku sarapan saja dahulu. Mumpung waktu masih pagi dan masih wajar aku menyebut sarapan sebagai sarapan.

Aku berjalan ke arah timur menuju warung kopi yang ber- joint venture dengan penjual soto. Berjalan dengan seksama karena tidak sedikitnya angkutan umum dan becak yang memadati jalan di sini. Sampai juga di warung kopi. Ramai. Tapi masih menyediakan ruang duduk bagi tubuhku yang kurus ini.

Duduk. Menghela napas. Melihat ke sekeliling. Mulai memesan.

“Pak, soto satu..”, pesanku.pada penjual soto. Kemudian ku juga memesan segelas teh hangat ke warung kopi yang juga menjual teh.

Sembari menunggu, aku melihat – lihat. Pembeli lain sejak asik berbincang – bincang. Kadang aku mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Kadang tidak sama sekali. Bahasa yang terdengar asing di telingaku.

Di kiriku adalah seorang lelaki tua dengan sebatang rokok di antara selangkangan jari telunjuk dan jari tengahnya. Asapnya mengepul. Asap yang keluar berbisik kepada telingaku.”Hiruplah aku..”, bisiknya. Terlena aku oleh buaiannya. “iya pasti ku hirup..”, jawabku pasrah.

“Uhuk..uhuk..uhukk..”, itu adalah bunyi batukku.

Lelaki tua itu menyadarinya dan mulai mematikan rokok miliknya.

“Maaf ya mas..”, kata lelaki tua itu yang kemudian memasukkan rokoknya yang telah mati ke dalam saku bajunya.

“Nggak apa apa pak..”, jawabku dengan senyum.

“Ini dari mana dek..?”, si lelaki tua mulai bertanya.

“Dari tadi pak, hehehe”, jawabku becanda, “dari Jakarta pak, mau ke ITS, Bapak tahu ITS?”.

“ITS….?”, Tanya lelaki tua itu kepada siapa.

Soto sudah datang. Ini memang untuk gw..seperti tulisan di mangkuk yang bertulis “memang untuk anda”. Aroma yang menggugah, warna yang keemas-emasan, taburan salju yang keruh diatasnya, potongan telur dan daging ayam, gumpalan – gumpalan lemak, dan mie – mie putih yang diselingi irisan – irisan kecil sayur kol. Rasa – rasanya rasa lapar ini akan segera terobati. Tak tahan aku. Tanganku hendak menyambutnya dari si penjual soto. Tapi semangkuk soto itu mendarat kepada orang di sebelah kananku. Tulisan “memang untuk anda” tidak selamanya memang untuk anda. Arghhh…

“Ini minumannya mas..”, tawar seorang wanita yang kelihatannya pemilik warung kopi itu.

Tak apalah ini saja dahulu. Aku mulai membuka tutup gelas dan membiarkan aroma teh ini merasuk ke dalam hidungku. Kudekatkan bibir gelas ini kepada bibirku. Layaknya sepasang kekasih tak dapat menahan – nahan cintanya lagi, teh itu sudah mendarat di dalam mulutku, dan…auwhhh..panas..Rasakan akibat dari nafsumu yang menggebu – gebu itu.

Sejenak aku kembali ingat pada pertanyaan tadi. “Jadi pak, bapak tahu ITS..?, tanyaku kembali.

Rek, ada yang tahu ITS ta..?, lelaki tua itu bertanya pada sekeliling.

“Naik becak sampai Pasar Turi, lanjut Lyn WK..”, jawab seseorang lain.

“Lyn WK..?”, aku bertanya bingung.

“Iya..nang Jakarta angkot namanya”, lelaki tua menjelaskan.

“owwhh…”, tanda aku mengerti.

“Mas, makan disek..?”, tawar seorang di sebelahku dengan ramah.

“…”, mata membesar tanda tak paham.

“Makan duluan maksudnya Mas”, jelas lelaki tua.

“Ohh..silahkan pak..”, balasku. Wow orang – orang yang ramah. Aku melanjutkan minumku lagi.

Si penjual soto datang. Datang membawa yang “memang untuk anda”. Ya..kali ini memang untuk gw..Hiatttt…

“Pak saya makan dulu..”, kataku kepada lelaki tua itu.

Dia mengangguk. Aku memulai pertempuran panjang antara baik dan jahat. Ohh..amboi.nikmat nian..Makan terus kulanjutkan hingga hanya mangkok yang tersisa – dan sendok garpunya juga. Sisa teh juga langsung kuminum sampai habis. Kakek bilang kalau makan jangan lama – lama. “Bagaimana kalau kau hidup di zaman perang. Sudah mati kau gara – gara makan”, begitu katanya.

Jam di handphone-ku sudah hamper menunjukkan pukul setengah tujuh. Masih cukup pagi. Padahal aku harus tiba di ITS pukul sepuluh nanti. Oh tidak aku lupa melihat jadwal kereta untuk pulang nanti.

Kuberjalan ke penjual soto. “Berapa pak?”, tanyaku

“Sama teh anget-nya ?”, Tanya si penjual.

“Iya..?”, jawabku.

“Empat ribu lima ratus, Mas.”, jawabnya.

“Nih pak..”, kataku sambil menyodorkan uang lima ribu rupiah. Wah kalau di Jakarta segini aja belum tentu dapat semangkuk soto.

Penjual soto mengembalikan lima ratus rupiah. Aku ucapkan terima kasih dan sekaligus permisi kepada orang – orang yang ada di sana. Jedug..aduhh itu kepalaku menabrak ujung atap gerobak. Orang – orang hendak menolong. Tapi kukatakan tidak apa – apa. Resiko badan yang tinggi.

Kembali ke stasiun. Maka terlihatlah jadwal kereta ke Jakarta. Ada yang pukul tiga, lima siang, hingga jam delapan malam nanti. Okelah kalau begitu.

Berjalan lagi ku ke depan stasiun. Naik becak hingga ke Pasar turi. Sampai di perempatan dimana banyak berlalu lalangnya kendaraan. Sekarang lampu merah.

“Pasar turinya yang mana pak ?”, tanyaku kepada si tukang becak.

“Yang itu mas”, jawabnya dengan tangan menunjuk ke seberang jalan.

“owwhh..memang gubuk – gubuk dinding gitu ya pak”, aku lanjut bertanya.

“Dulu ndak kayak gitu mas..itu karena kebakaran. Mboh siapa yang bakar?”, jawab si bapak dengan nada entah kesal kepada siapa.

“Saya kira Pasar Turi yang  sebelah kiri kita ini pak”, kataku dengan kepala mengarah ke gedung yang nuansanya berbeda jauh dengan Pasar turi yang di sana.

“Oohh..iki tah ?…pas..tr..s..ter..”, suara si bapak tidak begitu jelas karena lampu sudah hijau dan bunyi – bunyi klakson kendaraan mulai berteriak – teriak.

Sampai di seberang jalan aku diturunkan. “Disini mas, ntar naik lyn WK sing warnane kuning”, kata si bapak sambil menghentikan barrier pantai Jakarta itu.

“Nih pak..”, kataku sambil memberikan selembar sepuluh ribu rupiah.

“Nih mas..suwun”, kata si bapak dan memberikan lima lembar seribu rupiah kepadaku.

Lyn WK sudah muncul. Aku naik kemudian duduk di dekat jendela belakang yang bertuliskan Wilangon dan Keputih di pojok kacanya. Mungkin ini alasan diberi nama WK. Lyn mulai berjalan. Tak begitu lama kelihatanlah sebuah tugu yang menjulang, tidak setinggi monas. Ini tugu pahlawan kali yah?iyah aja deh. Lyn terus melaju. Menelusuri sisi kali, memasuki jalan yang tak begitu lebar. Terlihat suatu suasana yang tidak berbeda jauh dengan Jakarta. Kuburan yang ramai dengan kain jemuran dan lain – lain. Terus melaju hingga menemui sisi kali yang lain lagi. Memasuki kawasan dengan bau – bau dupa, bangunan tua, rel kereta, dan Mal. Lyn ini memutar balik, memasuki jalan kecil. Terus berbelok – belok hingga bertemu dengan kali lagi (dengan lebar yang lebih kecil). Sampai dengan lampu merah yang di sisi kiri jalan adalah Fakultas Kedokteran Gigi UNAIR. Penumpang mulai berkurang. Aku pindah duduk di belakang supir.

“Aku turun di ITS cuk”, kataku pede. Temanku mengatakan cuk adalah sapaan hangat antara anak muda di Surabaya. Setidaknya begitu kata temanku.

“…Jancuk bla..bla..bla..cuk”, sang supir menyerocos begitu saja.

“Maaf mas saya nggak ngerti”, kataku bingung.

“Kalau ngomong yang sopan mas”, kata dia ketus.

Aku segera menyadarinya. Sialan. Hedi cuk.

“Duh maaf mas, saya baru nyadar kalau saya dikerjain teman saya, katanya cuk itu sapaan hangat”, kataku memohon.

“Heuh??hahaha..”, dia ketawa. “Kamu dikerjai memang..ya udah nanti kalau sudah sampai ITS saya kasih tahu”.

Lyn terus melaju hingga Jalan Raya Kertajaya, Rumah Sakit Haji, berbelok – belok lagi hingga Lyn pun berhenti.

“Di sini mas, terus aja jalan ke dalam..”, sambil menunjuk ke arah jalan yang panjang.

“Owhh..nih pak terima kasih”, kataku sembari memberikan uang tiga ribu rupiah.

Jadi ini toh ITS..kemudian aku mulai berjalan..

Bersambung ah..capek nulis mulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s