Ini bukan dongeng (ini racuan…)

Wah yang jelas, gw nggak ada pandai – pandainya mendongeng. Kalaupun di bilang bisa itu cuma kebetulan semata. Sebuah kebetulan yang diniati untuk menghibur. Lalu, mendongeng rasa – rasanya emang bakal lebih kerasa kalau di ceritakan secara langsung, dibandingkan dibaca begitu saja. Akan lebih banyak ekspresi yang diperoleh ketika dongeng diceritakan secara langsung.

Ya belakangan gw sempat menjadi pendongeng bagi seseorang. Pendongeng via telepon. Ada seseorang di sana yang gw rasa, diri gw (mungkin) jatuh hati padanya. Ya terlepas dia jatuh hati nggaknya ke gw, ya tetap aja gw cuma mau ngelakuin sesuatu aja buat dia.

Di sini gw coba menuliskan kembali dongeng (baca: racauan) yang gw ceritakan itu dengan banyak gubahan di sana – sini (tentunya saat membaca ini, kelogikaan anda tolong di singkirkan dulu, karena banyak tanya di sana sini gak bakal membuahkan apapun)

Dahulu kala..(selalu di mulai dengan ini)

Di sebuah hutan yang begitu luas bohongnya, hiduplah seorang anak muda. Sebut saja anak muda itu Arnold. Arnold hidup sendirian sebagai manusia, namun memiliki banyak teman – teman hewan di sana. Kesehariannya di jalani dengan suka – suka tanpa tahu apa – apa tentang dunia yang luas ini.

“Sebenarnya dari manakah aku ini..?’, tanya Arnold kepada dirinya sembari bersandar di pohon yang berada di sisi danau.

“Oh iya ternyata aku dari rumah tadi..”, jawab Arnold menyadari kebodohannya pertanyaannya yang cerdas.

Sebenarnya arnold hendak bertanya kenapa hanya dirinya hanya sendiri di hutan yang begitu luas ini. Pernah dia berpikir bahwa otaknya di cuci oleh organisasi rahasia yang dirahasiakan dan ditinggalkan begitu saja di tengah hutan oleh karena kebanyaktahuannya tentang aksi – aksi rahasia dari organisasi rahasia itu.  Tapi itu hanya pikiran Arnold saja. Pernah juga ia berpikir bahwa makhluk luar angkasa mengembalikannya setelah menggunakan tubuhnya sebagai induk bagi anak2 alien, tapi setelah alien2 bodoh itu menyadari kebodohannya bahwa Arnold adalah laki – laki dan tidak bisa punya anak :hammer:, maka alien2 (lagi2 karena kebodohannya) menurunkan Arnold di tengah hutan entah di mana. Untuk pikiran yang barusan ini nampaknya lebih masuk akal.

“Ya bagaimanapun aku harus bisa bertemu dengan manusia yang lain”,  seru Arnold bersemangat.

Keesokan harinya, Arnold memutuskan untuk pergi mencari manusia lain. Dia berpamitan dengan teman – teman binatangnya. Ada anjing, ada kerbau, ada singa, ada buaya, ada kelinci, ada tikus, ada ular, ada zebra dan banyak lagi. Saat itu suasananya damai dan haru. Semua hewan menangis semua.

“Teman – teman maafkan aku, aku harus mencari makhluk – makhluk yang sama denganku, aku harus pergi”, pamit Arnold kepada teman – teman hewannya.

“Hiks..hiks..hiks..”, tangis tikus yang terdengar makin keras.

“Ya hati – hatilah kau nold, kami yang akan menjaga kelestarian hutan ini’, singa mencoba menjawab dengan bijaksana.

“Ya baiklah kalau begitu, aku pamit”, Arnold pun mulai melangkahkan kakinya menjauh dari gerombolan teman – teman hewannya. Hewan – hewan seperti tikus, kelinci, zebra dkk. menangis sejadi – jadinya. Arnold harus tetap melangkah, karena ini tentang masa depannya.

Kurang lebih lima ratus meter Arnold meninggalkan gerombolan temannya itu, maka singa, buaya dan hewan – hewan buas lain, mulai memangsa hewan – hewan kecil seperti tikus. Mungkin itulah alasan tikus dkk. menangis sejadi – jadinya. Alasan selama ini singa dkk. tidak memakan tikus dkk. adalah karena singa dkk. ingat bahwa manusia adalah makhluk yang mulia, sehingga tidak layak nampaknya mempertontonkan kekejian di depan Arnold. Sayangnya, yang singa tidak ketahui adalah Arnold tidak begitu peduli tentang hal itu.

Arnold terus berjalan dengan sejenak berhenti untuk beristirahat dan memakan bekal yang di bawanya, lalu berjalan lagi. Sembari berjalan, Arnold bernyanyi – nyanyi ibu – ibu bapak – bapak siapa yang punya anak.

Akhirnya setelah jauh melangkah, sampailah Arnold di depan pintu gerbang yang begitu besar. Di depannya berdiri 2 orang penjaga pintu. Tegak mereka berdiri, pandangan lurus ke depan sambil mikir jorok, gagah, sebagai pertanda lewati saja kami kalau berani.

Arnold terus saja berjalan masuk menuju pintu gerbang. Tak ada yang menghentikan. Ternyata kedua penjaga itu keasikan mikir jorok terlalu berkonsentrasi dengan lingkungannya.

Arnold takjub,”ihhhh waw…”. Baru pertama kali dirinya melihat pemandangan yang seperti ini. Biasanya ia dihadapkan dengan pepohonan dan teman – teman hewannya yang senang mengelilinginya (terutama tikus dkk.). Di dalam gerbang itu, ia melihat banyak manusia yang berseliweran, banyak bangunan – bangunan. Juga beberapa temannya yang bercuit – cuit di balik jeruji, dia inginkan kebebasan. “Suatu hari aku pasti membebaskanmu kawan’, geram Arnold dalam hati.

Tak disadari perbekalan Arnold sudah habis, dia terus berjalan saja, berharap bertemu pohon yang sudah berbuah. Terus berjalan dan menabrak seseorang. Seorang gadis. Seorang gadis yang jatuh barang – barang bawaannya karena tabrakan itu. Seorang gadis yang membuat Arnold terbengong – bengong. Arnold yang terbengong – bengong karena bawaan gadis itu adalah buah apel.

“Hey kamu jangan diam saja, bantu aku memungut apel2 ini, kau kan yang menabrak ku..”, seru sang gadis sambil memungut  apel – apel itu.

Kemudian Arnold pun segera membantu gadis itu memungut apel – apel yang berserakan itu.

Sembari memungut apel – apel itu mereka menyempatkan berbincang – bincang.

“maafkan aku..aku Arnold”, seru Arnold.

“……..”, sang gadis diam saja tetap memunguti apel – apel itu.

“bolehkah aku meminta satu saja apel milikmu..”, Arnold meminta.

“……..”, sang gadis masih saja tetap memunguti apel – apel itu.

“diam tandanya iya….kraukk..”, Arnold mulai memakan sebuah apel.

Sang gadis menatap Arnold. Arnold balas menatap. Sang gadis kembali memungut apel – apel itu.

“Harganya 50 cella”, seru sang gadis.

“Haah…?”, Arnold kaget.

“Iya 50 cella, kalau tak bisa membayarnya kau akan tahu akibatnya’, lanjut sang gadis mengancam.

“ya tapi aku tak punya uang aku hanya punya cinta ini“, jawab arnold dengan nada menyesal.

“ya sudah kamu ikut aku ke kantor penjaga kota”, lanjut sang gadis mulai menakut – nakuti.

(btw nih cerita udah benar2 melenceng dari yang gw ceritain ke dia..nih udah kayak versi GI JOE kartun yang diangkat ke layar lebar..tapi ya biarin aja deh) masih bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s