Di lampu merah

Familiar dengan nama lampu merah..nama gak terkenalnya lampu lalu lintas (traffic lights). Di kota Jakarta yang ntah gw bingung bilangnya sayang atau cinta, lampu merah adalah tempat yang bisa menjadi tumpah ruahnya perasaan, terutama ketika macet terjadi. Ada yang merasa tua di jalan, ada yang merasa gini dan gitu dan lain – lain. Tapi ya enjoy ajalah.

Jam menunjukkan pukul 07.45, aku harus menuju kampus. Saat – saat genting seperti ini, bisa – bisanya aku bangun kesiangan. Sekarang, aku dan motorku terjebak di antara deretan – deretan kaleng beroda yang sama terjebaknya dengan diriku. Habis sudah, Pak Setyo bakal cabut ke Hongkong jam 8 nanti. Takdirku mungkin untuk melajukan skripsiku di semester depan..ughh…

“tiiiin…tiiiiin….tiiiiinn….” bunyi klakson mobil sedan hitam berpelat merah. Ughh sial, macet, macet , dan macet lagi. “tiiiiiiiinnnnn……..” bunyi klakson lagi. Jan**k suwiiiii…dimana semua polisi..dimanaaaa..kali ini habislah aku, habis, tak tersisa.

“tok..tok..tok…” bunyi kaca mobil sang pegawai yang di ketok2 oleh seseorang. “Pak kasihan pak, belum makan pak…”, pinta sang anak kecil itu dengan wajah yang memelas. Tangan sang pegawai melambai – lambai dengan wajah memandang sesuatu entah kemana. Sang anak kecil pun berlalu menuju mobil – mobil lainnya. “tiiiinnnn tiiiiiiinnnn tiiiiiiiiiiiiiiiin” sang pegawai pun mulai lagi.

“Fiuuhhhhhh…….untung macet…males gw buru – buru…paling entar cuma gitu – gitu aja.” ucap seorang gadis dalam hati. “Sit siapin ini, sit siapin itu, sit bawa ini, sit bawa itu..zzzz….kapan hidup gw bakal lebih baik..euh…” kata si gadis sambil meneruskan lamunannya di dalam angkot.

“Mana nih…kok gak ada penumpang….” ucap dalam hati sang supir angkot sambil melihat ke kiri dan ke kanan.  Angkot yang ia bawa di bawa begitu perlahan, sangat perlahan. Klakson – klakson di belakang angkotnya sana seolah – olah adalah hal yang biasa – biasa saja. “Kuyakin mereka akan paham klo ini semua untuk anak istriku..”, sahutnya dalam hati. “ayo dek ke rawamangun..”, ajak sang supir angkot kepada wanita di sisi jalan.

“Tiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnn………….”, bunyi dari klakson motor yang mendadak . berhenti. “Mbak klo nyebrang liat – liat donk…heuuuu…”, bentak sang pengendara motor.  Sang pengendara mencuri – curi sela hingga mendapat sisi terpinggir dari jalan. Lancar – lancar saja segalanya hingga akhirnya ia harus mengerem mendadak. “Fiuh hampir saja….,” ucapnya lega dalam hati sebelum ia membentak wanita muda itu.

“Iya maaf mas….” ucap wanita itu sambil melempar senyumnya kepada pengendara motor. “hmmm…nih orang bawa motor gak bisa pelan apah…”, ucap wanita itu di dalam hatinya.

Masih banyak pikiran dan perasaan tertumpah di tempat ini, di lampu merah. Tapi mereka selalu sepikiran ketika..ah lampu hijau..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s