Aku selalu suka mendengar salah satu karya SORE yang berjudul Etalase.

begini liriknya :

semua kisah yang pernah lalui hidupmu
semua cinta yang pernah engkau rasakan
dalam kisahmu, pahit dan manismu, lalui..

semua teman yang engkau sayang dan tinggalkan
sengaja atau tidak, dirimu pernah lalui
cerita yang haru, yang semua alami, dan..

*
kita coba
kenangi semua
walau tlah tiada
bagai etalase jendela

kau pernah kenal seorang yang sangat kau sayang
kau pernah kenal seorang yang sangat kau benci
terasa perih, hingga otakmu, meledak (Au!!)

semua sahabat yang pernah menghangatkan hidup
satu per satu menghilang seiring waktu
yang makin lama, kian menua, namun.. ( * ) (sumber)

Musik mereka yang begitu dan liriknya yang demikian merupakan paduan yang tepat untuk mengenang hal – hal yang telah terlalui. Ya, bak etalase jendela. Bak memori – memori yang telah terkotak – kotak yang hanya mampu dipandangi tanpa perlu menyentuhnya, namun tetap mempermainkan sisi perasa manusia. Tetap memancing rasa – rasa sedih gembira. Memancing – mancing kita untuk masuk ke dalam, terlarut, dan tersadar “hey, aku harus segera pulang”. Terkadang ada yang terlarut, makin terlarut, dan makin makin terlarut hingga yang lain hanya selingan dalam hidupnya.

Etalase di dalam kepalaku begitu luas. Ketika ku memandangnya ada rasa takjub, ada riang bukan kepalang, ada rasa malas yang mencekam, ada rasa penasaran, bahkan kadang tak peduli bahwa aku memiliki banyak hal melalui etalase itu.

Di bagian kiri etalase terpampang memori yang begitu indah, berkilauan, penuh renda – renda bahagia. Mataku tak ingin beranjak dari padanya. Memandangnya membangkitkan riang gembira di hati. Tapi itu semu😦

Aku beranjak sedikit ke sebelah kanan terpampang memori yang biasa – biasa saja. Memandangnya datar saja. Tak ada yang begitu spesial dengan semua ini. Tapi, ya memang begitu rapih. Lalu kita katakan “not bad”.

Sedikit lagi hingga ke tengah terpampang memori yang melihatnya saja membuat cemberut. “Jelek sekali memori – memori ini, kenapa harus ada ??”. Tapi setelah kulihat – lihat lagi ya aku butuh juga melihat ini semua. Aku butuh memperbanyak memori di pojok kiri sana🙂.

Lalu ke pojok kanan, tidak beberapa lama saja aku sudah memalingkan wajahku dari sana. Entah apa itu. Aku masih belum mampu memandangnya berlama – lama. Tanpa ku pandangpun aku masih bisa melihatnya di keseharianku. Berharap memori – memori itu dapat segera dipindahkan ke tengah.

Ketika kudekatkan wajahku ke etalase aku masih dapat memandang ke dalam, lebih dalam, memori – memori yang melayang – layang menanti hendak dipajang kapan.

Itulah etalase-ku (saat ini).

dan

Dia adalah pemilik etalase-ku🙂

6 thoughts on “Etalase-ku

  1. Memancing – mancing kita untuk masuk ke dalam, terlarut, dan tersadar “hey, aku harus segera pulang”.

    if you ask me to go I will,
    but I don’t wanna go home.
    it maybe wrong, it maybe right, I don’t know,
    but I don’t wanna go home.
    -klaatu-

    *and I’m a big liar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s