Panjangnya waktu mengeringkan daun yang hijau. Daun dengan kehidupan di dalamnya. Daun yang dihidupi dan menghidupi. Daun yang dibutuhkan dan membutuhkan. Daun sebagai (fungsi) daun. Daun yang kering lalu mati masihlah tergantikan dengan tunas – tunas baru yang tumbuh. Menjalani hal yang sama. Kering dan jatuh.

Sang daun bergerak di sana dan di sini mengikuti dan melawan angin yang melaju. Tak semata dia hanya mengikuti sang angin. Dia melawan. Jika mampu. Karena sekedar mengikuti adalah kematian pada akhirnya. Lepas dari dihidupi dan menghidupi.

Hari – hari dijalani sang daun dengan tulus dan bersemangat. Dia tetap tulus menghadapi pagi yang datang, langit yang menangis, hingga kemarau yang berkepanjangan. Perjalanan hidupnya sudah ditentukan.

Hijau kemudian coklat. Kering. Pada waktunya dia akan meninggalkan apa yang menghidupi dan dihidupinya. Menuju suatu tempat entah kemana. Dia mengikuti angin yang mengehembusnya. Melayang – layang. Menari – nari dengan bebasnya. Melebihi ekspetasinya tentang bagian hidupnya yang dulu. Kebebasan yang indah. Kebebasan yang memiliki akhir.

Hembusan – hembusan kebebasan itupun berakhir, ketika sang daun membaringkan dirinya dilembutnya aliran air yang besar. Dia hanyalah sepersepuluhribu dari lebar aliran air itu. Dia mengikuti arus. Arus yang hendak membawanya kemana. Sang daun tak sendiri. Ada daun – daun yang lain yang mengikuti arus bersamanya. Walau diapun sendiri lagi pada akhirnya. Daun – daun yang lain tenggelam.

Di kesendiriannya diapun mengetahui bahwa dia pun bisa berakhir demikian. Tenggelam. Dia tak ingin yang demikian. Dia ingin lebih dari sekedar daun yang pada akhirnya mengendap begitu saja. Pergolakan terjadi. Argumen – argumen bermunculan. Meskipun tenggelam dia akan tetap berarti. Tetapi dia tak ingin yang begini artinya. Dia ingin tetap berarti dengan cara yang berbeda.

Lalu dia pun bersayap. Dia terbang. Dia tinggalkan aliran air itu. Mengepak – ngepak dengan semangat. Dia merasakan lagi hembusan kebebasan itu. Dia merasakan perasaan yang melebihi yang sebelumnya. Kebebasan yang berbeda. Kebebasan yang dia tentukan sendiri. Bukan lagi bergantung pada angin yang berhembus.

Sepasang sayap itupun patah. Sekarang hembusan angin membawanya kepada sang Bumi. Berada di tengah rimbunnya pepohonan. Doanya yang terjawab. Sang Bumi memeluknya. Membawa dia tetap pada arti yang sama.

2 thoughts on “Daun yang kering

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s