Judulnya “yang sabar”.

Pada intinya semua perjalanan yang terjadi di hidup gw mesti memiliki sikap sabar dan bersyukur. Lalu kawannya adalah satu saja, jangan menyerah.

Maret yang lalu, di pertengahan bulan, gw mendapatkan undangan psikotes dan wawancara di Kalbe Farma. Dapat undangan gini – ginian itu ibarat secercah cahaya di malam yang begitu gelap – gelapnya. Segala sesuatunya berjalan lancar hingga wawancaranya. Berharap. Senin-nya dapat email dari HRD-nya yang intinya “yang sabar”.

 

Kemudian tentang cinta. “Yang sabar”.

Lalu tanggal 25 Maret 2014 kemarin, gw udah balik lagi ke Pontianak. Rencananya 26 Maret-nya mau ke lokasi (Labai). Tapi nyata di tanggal 26 Maret gw mesti berobat karena gw batuk – batuk gak keren. Sekarang sudah udah reda. Udah enak. Tanggal 26 Maret juga gw sekalian servis motor. Ganti oli, ganti spark board, terus ganti lampu jauh yang udah nggak bagus lagi. Ya intinya semua sudah kelihatan bagus. Tinggal besoknya (27 Maret) berangkat lagi ke lokasi.

Akhirnya tanggal 27 Maret 2014 tiba. Pagi harinya, di luar kos Mas Agus, langit sudah menunjukkan ke-galau-annya. Mendung. Kami menuju kantor terlebih dahulu. Mas Agus hendak mengurus sebagian gajinya yang tiba – tiba “hilang”. Pengen di urus ternyata orang di cari tidak ada di tempat. Ya sudah kami melanjutkan perjalanan.

Perjalanan dari Pontianak – Labai secara normal dengan kecepatan 70 – 80 di jalan aspal dan sisanya di jalan tanah adalah sekitar 4 – 6 jam (sudah termasuk istirahat).

Dari kantor kami melaju motor kami hingga bundaran Ambawang. Sebelum sampai bundaran sebenarnya hujan sudah turun. Di sekitar bundaran kami berhenti di rumah makan untuk berteduh sekaligus sarapan. Sweater dan celana sudah basah. Kami makan. Di kepalaku timbul firasat bahwa perjalanan ini akan buruk. Hujan tadi ibarat pertanda bahwa perjalanan kami akan terkendala. Tapi itu hanya di pikiran saja. Hujan sudah reda sebentar kami pun melanjutkan perjalanan (walau tiba – tiba hujannya turun lagi selepas kami meninggalkan rumah makan). Tidak lupa mengisi tangki motor full. Perjalanan dari Ambawang menuju Tayan adalah perjalanan yang lancar dan tidak terkendala. Sesampainya di Tayan kami istirahat sejenak untuk minum. Kami lanjutkan perjalanan untuk menyebrangi Sungai Kapuas ( Tayan – Piasak). Menyebrangnya menggunakan Kapal Motor (biasa disebut pompong). Sampai di Piasak kami makan bakso. Saat buang air kecil aku mendengar wanita yang teriak. Kulihat keluar ternyata ada motor yang hendak naik ke darat (dari pompong) yang terjatuh ke sungai. Sang pengendara tidak dapat mengendalikan motornya ketika motornya tiba – tiba mati. Syukurnya orang dan motornya tidak apa – apa. Hanya saja muatannya yang berupa beras beberapa karung sudah tenggelam.

Dari Piasak kami melanjutkan perjalanan. Saat di perjalanan, permasalahan pun muncul. Motor yang kami gunakan tidak maksimal. Kecepatan maksimalnya cuma sampai 73 km/jam (itupun di turunan). Bagaimanapun kami meng-gas motor, kecepatannya tidak mau naik. Alhasil kami harus sabar dan takwakal. Sesampainya di Toba kami mencoba mencari bengkel untuk memperbaiki motor. Sampai di bengkel, montirnya tidak kece dan tidak dapat menyelesaikan masalah. Di situ hujan pun turun. Deras.

Sekitar hampir jam 3 kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan kami yang masih jauh dengan motor yang tidak bisa ngebut dan hujan yang rintik – rintik. Akhirnya kami memasuki jalan tanah. Jalan akses Kebun Sawit yang nembus ke areal pertambangan Bauksit dan akhirnya ke kantor tempat aku bekerja.

Yang perlu diketahui adalah jalan tanah itu becek karena habis hujan. Hal itu menjadi kendala. Karena kondisi itu lumayan menyulitkan motor kami. Ada dua turunan yang agak berbahaya karena tanahnya yang licin. Puji Tuhan di turunan tersebut saya bisa hati – hati dan tidak terjatuh.

Perjalanan terus demikian dengan kecepatan motor yang apa adanya. Lalu matahari sudah mulai tenggelam. Mulailah gelap. Hal yang menarik pun dimulai lagi. Iya ternyata lampu motornya redup seredup – redupnya. Alhasil susah sudah. Jalan yang panjang membentang itu tidak kelihatan. Kami coba pake lampu hape nokia ku yang kecil dan cahayanya gak jauh. Mulai bingung, resah, dan entahlah. Tapi ternyata masih ada hapeku yang satu lagi. Si Grand. Lampu kameranya lumayan ternyata. Akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan kecepatan maksimal 10 km/jam. Was – was, itu perasaan gw pas bawa motor. Mana kiri kanan gelapnya minta ampun. Beberapa kali kami hampir jatuh tapi Puji Tuhan, Dia masih terus menjaga kami selama perjalanan.

Puji Tuhan. Lampu camp dari kejauhan sudah nampak. Semakin dekat camp perasaan kami makin sumringah sampai – sampai tidak waspada. Dekat dengan camp ada tumpukan batu kerikil untuk jalan. Tidak terlihat. Motor yang pelan itu melaju kesana. Lalu kami tertawa sejadi – jadinya. Sekalian mentertawakan perjalanan kami yang jarang – jarang terjadi ini.

Dari semuanya ya gw ngerasa Tuhan meminta gw bersabar. Bersabar untuk pekerjaan yang baru. Bersabar untuk jodoh yang masih buram masa depannya. Bersabar untuk perjalanan yang penuh rintangan. Perjalanan ini membuktikan bahwa kesabaran pasti membuahkan hasil yang manis. Lalu yang pasti dalam kesabaran kita Tuhan selalu menyertai kita.

Jadi ketika apa yang menjadi keinginan dan lain – lain yang belum dapat tercapai, bersabarlah dan tetap berusaha. Jangan menyerah !!

Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s