Ada beberapa kisah nyata nih. Ada beberapa, cuman yang keinget sama gw ya satu ini. Soalnya kisahnya dekat.

Ada sebuah keluarga. Bapak, Ibu dan anak – anaknya. Terus ada bapaknya yang terjatuh kepada wanita lain. Lalu wanita lainnya hamil, punya anak. Ibunya si anak, menghilang. Si bapak mesti bertanggung jawab. Orang – orang tak dikenal mendatanginya. Mengancamnya.

Si Ibu yang bukan ibunya si anak pun sebenarnya tersakiti karena si bapak. Si bapak datang ke si Ibu untuk anak itu di rawatnya. Saya tidak tahu bagaimana pergumulan si Ibu tentang semua ini (termasuk si Bapak yang bakal nekat bunuh diri) hingga pada akhirnya dia mau merawat si anak. Bukan keputusan yang mudah karena banyak yang tidak setuju dan menentang itu. Tapi si ibu (mungkin) menyadari semua akibat yang akan terjadi. Si ibu tetap pada keputusannya meskipun bertentangan dengan saudari – saudarinya. Saudari – saudarinya berpendapat akan seperti apa nantinya di masa depan. Masalah harta gono – gini, apa yang menjadi hak si anak kandung dan lain – lain. Saat ini sang anak sudah kelas 6 SD. Anak yang tidak tahu apa – apa itu sudah kelas 6 SD. Melihat wajahnya yang polos dan layaknya anak – anak lainnya, saya yakin dia bukanlah musibah dan saya juga meyakini bahwa si Ibu telah merawat dia dengan baik.

Saya tidak terlalu peduli tentang hal – hal negatif yang akan ada di masa mendatang. Apa yang saya lihat adalah kasih seorang Ibu. Hanya itu. Mengasihi seorang anak yang bukan darah dagingnya bukanlah hal yang mudah, apalagi itu hasil dari sesuatu yang menyakiti hati. Tapi sang Ibu lebih memilih mempraktekan apa yang disebut Kasih. Segala logika abc tentang nantinya si anak bakal ini bakal itu tidak menjadi prioritasnya. Prioritasnya adalah mengasihi, setelahnya adalah kehendak Tuhan saja yang terjadi.

Sama halnya dengan hal sehari – hari yang kita jalani. Tunjukkan saja kasih yang kita miliki pada sesama kita manusia. Untuk apa yang terjadi selanjutnya adalah kehendak-Nya saja. Kalau orang safety bilang pake dulu aja APD-nya, kalaupun masih terjadi kecelakaan setidaknya itu bukan karena keteledoran kita yang sudah mengamankan diri sendiri.

Sekian.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s