Mengingini yang bukan milikmu

Di sela – sela kurang ide dan semangat untuk menulis, akhirnya ada juga bahan untuk ditulis.

Perihal mengingini yang bukan milik kita adalah hal yang sering saya temukan di keseharian saya. Beberapa waktu yang lalu, sewaktu turun ke Pontianak saya menyempatkan mencari sandal baru untuk saya gunakan di Distrik. Biasanya, ketika di sekitaran Mess ataupun kantor, saya dan yang lainnya “nyeker” aja dari satu tempat ke tempat lainnya.

Akhirnya sandal sudah saya beli. Merk Eiger. Sendalnya nyaman. Awal saya kira sempit tetapi lama – kelamaan saya pakai tidak lagi terasa sempit. Tali sendalnya berwarna hijau muda. Kayak berpendar tetapi tidak. Sudah saya coba matikan lampu kamar di malam hari, talinya tidak berpendar.

Mulailah saya menggunakan sandal ini dari Mess ke kantor. Saya merasa optimis bahwa sandal saya akan biasa – biasa saja dan hanya akan saya saja yang memakai. Beberapa hari berlalu, memang hanya saya yang pakai. Namun ada beberapa kejadian yang mulai membuat saya tidak nyaman ketika sandal saya mulai tidak ada di tempatnya.

Saya lupa hari tapi saya ingat kejadiannya ketika seharian penuh itu sandal tidak kelihatan. Awal saya kira mungkin ada teman yang memakai untuk ke musholla. Tetapi hingga sore dan malam menjelang itu sandal tidak kunjung kembali ke tempat semula atau dimanapun di sekitar kantor. Berpikir lagi mungkin ada tenaga penanaman yang membawa dan esoknya akan dikembalikan. Esok datang, sandal pun belum juga datang. Di saat kehilangan seperti ini, saya menerapkan berpikiran positif bahwa itu sandal pasti balik. Setelah beberapa hari, saya ikhlas itu sandal  tidak kembali. Beberapa saat saya hendak menyumpah tapi tiada guna juga.

Hari berlalu dan tibalah pada suatu pagi kami karyawan sarapan bersama di kantin. Selesai sarapan kami, biasanya kami berbincang – bincang. Tentang apapun. Di awal pagi itu, adaptor fingerprint copot dan hilang entah kemana. Pelakunya ? Tiada yang tahu. Berkenaan dengan hilang itu mulailah kami berbicara tentang hal – hal kehilangan di kantor. Tiba saatnya saya ketika saya berbicara tentang kehilangan sandal saya. Teman mulai bertanya mulai dari merk hingga warna. Ternyata dia menyimpan sandal itu. Dia melihat sandal itu berhari – hari di jalan. Saya tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi fakta bahwa sandal saya baik – baik saja membuat saya senang.

Tak lama dari pagi itu, sandal saya sudah hilang lagi. “Duh, ini sandal kemana lagi ?”, itu saya sambil garuk – garuk kepala. Sore agak malam sandal saya sudah kembali lagi. Ternyata dibawa pergi ke Distrik sebelah. Lucunya adalah teman yang membawa itu sandal ijin ke teman saya dan bukan ke saya. Bagaimana bisa meminta ijin memakai barang milik kamu tetapi ijinnya ke orang lain ?

Setelahnya dan setelahnya yang terjadi adalah saya menemukan sandal saya suka berpindah.  Sekarang, sandal itu sudah saya cuci dan simpan di kamar karena Sabtu ini saya hendak turun ke Pontianak. Mau rehat sejenak di kota. Butuh kebisingan dan orang – orang.

Kejadian – kejadian ini coba saya kaitkan dengan rasa mengingini bahkan memiliki. Di kesehariannya, saya dan teman – teman terbiasa “nyeker”. Debu tanah tidak menjadi masalah bagi telapak kaki kami. Lalu sandal saya ada, kenapa beberapa tiba – tiba merasa kakinya harus bersih dengan barang milik orang lain. Kenapa hal sekecil  ini harus saya lihat sebagai masalah ? Karena segala bermula dari hal yang kecil. Itu aja. Sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s