Belajar dari Angkot

Ya sudah beberapa bulan dari tulisan sebelumnya. Sekarang gw tinggal agak kesanaan dari Caringin yang agak kesanaan dari Ciawi yang agak kesanaan juga dari Bogor. Di luar jendela kamar udah ada gunung Salak yang sudah megah berdiri. Kalau lagi cerah – cerahnya ya bisa lihat indahnya Gunung Salak (tapi salaknya mana ? Jadi aku yang bersalak nih ? *maaf plesetan).

IMG_20180315_081708[1]
Asjep. asal jepret.
Istri gw bilang ini daerah namanya Cigombong. Untuk menuju ke sini bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan tidak pribadi seperti bis, angkot dan lain -lain. Untuk yang menggunakan kendaraan pribadi ya nantinya bisa saja dapat kejutan berupa macet total gak bisa gerak sama sekali dan walaupun bisa gerak seperti 1 meter per 10 detik ( jadi berapakah jika diubah menjadi km/jam ?).

Satu – satunya cara adalah angkot. Kenapa angkot ? Ya setelah beberapa lama disini saya menjadi mengerti.

Angkot yang melewati Cigombong adalah angkot dengan trayek Sukasari (Bogor) – Cicurug. Rutenya dari Sukasari – Tajur – Ciawi – Cikretek – Cimande – Ciherang – Caringin lalu lewatin Cigombong, setelahnya saya belum pernah coba.

Lalu jalur Ciawi – Sukabumi ini adalah jalur yang gak jarang macet, apalagi kalau sudah akhir pekan. Belum lagi sering dilalui truk – truk besar air mineral bergalon – galon ataupun produk – produk industri lainnya yang mendirikan pabriknya di sepanjang jalan menuju Sukabumi.

OOT dikit, kalau dari Jakarta (via Cawang) naik APTB nanti turunnya di Ciawi, dan ketika kamu turun kamu akan bertanya – tanya sebenarnya kamu berada di mana ketika ada kernet yang mengajak – ajak, “Bumi Bumi Bumi..Bumi A…”.

Ok Angkot Cicurug ini anti macet (walau gak semuanya). Ada dua tipe angkot Cicurug, angkot yang bertulisan warna merah “Monster” dan angkot yang tidak bertulisan “Monster”. Yang bertulisan “Monster” ini konon adalah angkot yang cepat dan jarang ngetem – ngetem. Kemudian saat menghadapi macet, supirnya begitu lihai, begitu luwes kayak belut masuk sana sini. Begitu opportunis. Ada celah sedikit saja, sikat. Jadi ya kalau sama istri, kalau tidak ada tulisan monsternya dia nggak mau. Ya dia dan teman – teman kantornya, entah telah didoktrin siapa. Tapi sebenarnya rata – rata angkot Cicurug ini lihai – lihai kecuali memang sudah macet total.

Nah alternatif ketika sudah macet total adalah rute lain. Biasanya supir angkot bakal nanya dulu ke penumpang pada turun dimana. Kalau sudah nggak ada yang keberatan dia akan ngambil rute lain. Rute lain ini adalah rute masuk jalan desa dan kemudian tiba – tiba kita muncul di Caringin, Cikretek bahkan tanpa sadar sudah di daerah Batu Tulis. Terakhir lewat rute lain, saya dan istri muncul di BIOTROP. Menangnya lewat rute lain ini (kalau siang) adalah pemandangan desa yang asri, mulai dari sawah – sawah sampai dengan pembangunan jalan tol. Tetapi sempat mengerikan juga saat terakhir melalui tikungan S dan tanjakan. Saat menanjak lalu gak kuat, angkot mati dan penumpang panik. Belum lagi di belakang angkot ada motor ikutan berhenti. Akhirnya supir angkat rem tangan dan penumpang turun. Semua selamat semua senang.

Kemudian karakter supir angkot Cicurug juga bermacam – macam. Ada yang kalem aja sepanjang perjalanan. Ada yang suka ngobrol dengan penumpang di sampingnya. Ada yang gak bisa diam klakson – klakson punten ke pengendara lain. Ada yang dapat tiap mau jalan setelah penumpang naik ucap Bismillah. Yang lucu itu supirnya masih muda bener bawa teman, temannya mabuk. Temannya ngomong ngalor – ngidul ke penumpang. Pas macet lari – lari di sepanjang jalan terus naik angkotnya lagi. Kemarin pas ke Caringin cariin duku buat istri, supir angkotnya malah lagi asyik sama istrinya (mungkin).

Terakhir tentang ongkos angkot. Dari Sukasari sampai ke Cigombong biasanya 7000 rupiah. Kalau bayar dengan uang 10000 rupiah, kembalinya bisa kembali 3000 rupiah, bisa 2000 rupiah, bisa juga tidak kembali. Dari Cigombong ke Ciawi biasanya 5000 rupiah, kalau bayar dengan uang 10000 rupiah, bisa kembali 500o rupiah, bisa 4000 rupiah bahkan 3000 rupiah. Dari Cigombong ke Caringin biasanya kasih 2500 rupiah, kalau bayar pakai 5000 rupiah, bisa kembali 2000 rupiah, bisa kembali 1000 rupiah. Kadang dengan perjanjian karena akan menghadapi macet berkepanjangan, seakan – akan pak supir mengambil resiko mengorbankan waktu dan tenaga ( ya penumpang juga), supir dan penumpang deal – deal-an soal harga. Cara yang baik. Ya daripada ketika turun dan ditagih kurang.

Sekian yang saya bisa pelajari dari angkot Sukasari – Cicurug. Kiranya memberi manfaat untuk kita semua. Kiranya pak supir juga selalu lancar rejeki dan banyak penumpangnya.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s