Semuanya bakal keren banget di atas sana

Ada gunung. Gunung yang hanya boleh dicapai puncaknya oleh dua orang saja. Di puncaknya kamu bisa melihat segalanya. 

Untuk mencapai puncaknya, melalui jalan setapak dan dua pos. Ada yang dari bawah gunung sudah membawa teman yang dari awal sebelum mendaki memang ingin memuncak bersama, ada pula yang memang seorang diri dengan perlengkapan yang memadai, berharap – harap bertemu siapapun dan bisa menuju puncak bersamanya, ada juga yang semboyannya yang penting bisa melihat puncak, entah dia  awalnya sendiri ataupun dengan teman. Motivasi tiap orang untuk mencapai puncak bisa berbeda – beda.

Di pos 1, pos awal, banyak sekali orang – orang disana. Ada yang sendiri dan ada yang sudah berdua. Yang sendiri bisa mencari – temannya dari sini. Bisa sebentar ketemu, bisa juga lama. Ya disini yang mantap sudah berdua bisa langsung jalan dan apa saja bisa terjadi. 

Dari pos 1 terus menelusuri jalan setapak hingga akhirnya tiba di pos 2. Di pos 2 kebanyakan orang – orang sudah berdua. Di pos 2, ada yang sedang mempersiapkan diri dengan matang menuju puncak, ada yang masih memperdebatkan ini itu, ada juga yang masih asik menikmati pemandangan di pos 2. Tapi yang sendiri di pos 2, ada – ada saja motivasinya. Ada yang senang lihat yang sudah berdua jadi sendiri dan akhirnya turun dari gunung. Ada yang merasa kepepet ingin ke puncak terus melihat yang sudah berdua tapi beda motivasinya,  dan yang sendiri bisa masuk ke yang motivasi ingin segera ke puncak. Lagi – lagi semata ingin segera ke puncak.

Dari pos 2 menuju puncak, jalan yang dilalui benar – benar berat. Ada yang sudah membawa perlengkapan yang sangat memadai untuk menghadapi rintangan di jalan. Ada yang membawa perlengkapan seadanya, ada juga yang meminjam perlengkapan teman atau orang tua atau dari mana sajalah.

Di perjalanan menuju puncak, rintangan banyak. Rintangan bisa membuat orang kendur semangatnya, bahkan hancur seketika. Menghadapi jalan menuju puncak sebenarnya bukan masalah perlengkapan, tapi komitmen. Dengan komitmen, rintangan menuju puncak bisa ditaklukan. 

Lalu pada akhirnya tibalah di puncak. Tapi sayangnya apa yang  orang – orang katakan indahnya puncak tidak begitu. Ada yang puas terharu tetapi ada juga yang kecewa. Indahnya puncak bukan tentang apa yang kita lihat. Memang dari puncak bisa dilihat segalanya. Tapi indahnya ada di dalam pikiran kita. 

Lalu aku adalah seseorang dengan dia yang sedang menuju puncak. Banyak rintangan tapi kami berdua punya komitmen itu. Kami akan menuju ke puncak itu bersama apapun rintangannya.

Tentang indahnya puncak adalah setelahnya. Setelah melihat indahnya puncak, kamu turun dari sana dan menjalani hidup dengan indahnya puncak yang menetap di kepala.

dibungkus jadi banyak

Umumnya kalau beli makanan dibungkus akan lebih banyak apabila dibandingkan dengan kita membeli dan makan di tempat. Di rumah makan Padang katanya sering begitu. Tidak semua masakan jualan yang begitu. Kalau beli ketoprak tidak begitu, gado – gado juga tidak. Biasanya ya pas – pas saja. 

Lalu sama halnya dengan rumah makan Padang adalah mie goreng Balige. Nama tempatnya Bakmi Balige, ada di sekitaran Pulo Mas. Saat membeli mie goreng dan makan di tempat, porsinya ya sepiring cukup. Berbeda halnya ketika beli dibungkus. Ketika sampai rumah dan mulai memakan akan muncul pertanyaan, “kok banyak bener ?”.  Rasa – rasanya ingin bertanya kepada mereka kenapa bisa begitu. Yang paling gampang disyukuri saja dan bertambah gemuklah.

Terkait mie goreng Balige, secara kualitas masih terjaga. Indikasinya jumlah potongan daging babinya masih lebih banyak dibandingkan potongan hati babinya. Beda halnya dengan mie goreng Siantar di sekitaran Terminal Rawamangun yang kebanyakan adalah potongan hati babi dan bakso. Ya semua hanya berdasarkan pengamatan aja sih. Ndak tak riset pake metode ini itu atau sampai signifikan enggaknya jumlah potongan daging babinya terhadap kepuasan pelanggan. Tapi kalo penikmat mie goreng dengan selipan – selipan daging babi diantara mie-nya, jelas selipan – selipan ini penting. 

Sekian.

Tentang Standar Enakmu

Tentang standar enakmu.

Tentang yang enak, ada yang cukup dua puluh lima ribu, seratus ribu bahkan jutaan hingga puluhan juta. Bahkan ada yang mesti hutang sana – sini demi yang enak.

Proses mau enak, ada yang beberapa bulan, beberapa tahun hingga puluhan tahun hingga akhirnya bisa enak. 

Status mau enak, ada yang sekedar pemakai jasa dan penyedia jasa, ada yang diam – diam saja yang penting enak, ada yang mesti pengumuman sana – sini biar enaknya enak.

Prosesi enak juga ada yang gak pake biaya ada yang juga menelan puluhan juta.

Melaksanakan hal yang enak, ada yang mesti numpang orang tua, ngontrak, bahkan ya sudah mapan punya rumah sendiri saja.

Lalu kepalamu mikir. Terlalu cepat dapat enak bingung nanti duitnya. Terlalu lama dapat enak hasil enaknya kasihan juga. Tidak terlalu lama tidak terlalu cepat dapat enak, masalah ya tetap saja ada. 

Ya soal yang enak, tentang standar enakmu, gak mesti semua mengikuti standarmu. Karena untuk enak semua punya standarnya masing – masing.

Lapar di malam hari

Tulisan banyak draft aja belum ada yang di-release. Kalo soal cinta memang begitu. Jadi coba menulis cepat aja.

Lapar di malam hari adalah hal yang jarang terjadi, namun ya terjadi juga. Apalagi kalau membiasakan makan sore dengan porsi yang sedikit. Biar tidak buncit tapi ya masih buncit saja ­čśé­čśé­čśé.

Lalu lapar di malam hari kendalanya adalah inginnya yang ini dan yang itu padahal saya berada di lokasi yang satu jam dari kota Pontianak. Satu jam dari ibukota propinsi Kalimantan Barat berbeda dengan satu jam dari ibukota propinsi di pulau Jawa sana. Inginnya pake ojek online terus makanan sampai di lokasi tapi ya cuma khayalan saya.

Jadi di malam itu, saya tiba – tiba lapar. Saat itu sedang asyik – asyiknya ngobrol dengan si dia. Saya ijin dulu mau beli lauk, ayam penyet. Ayam penyet rada mewah yang jual dekat lokasi ada satu. Ada juga yang lebih mewah, babi panggang karo.

Jadi dengan gerimis yang turun saya melaju motor saya ke Warung Cantik. Iya namanya aja Warung Cantik, jangan tanya cantiknya dimana. Warung ini jadi tempat persinggahan pengendara dari motor sampe truk besar. Sekedar istirahat, minum kopi sampai makan malam.

Sampailah saya di itu warung. “Ada ayam penyet ?”, tanya saya. “Ayamnya ada, cuman yang masak tidak ada”, jawab pelayan di situ. “Kamu nggak bisa masak ?”, begitu saya tanya lagi. Lalu dia geleng – geleng kepala.

Sayapun pergi dengan agak kecewa. Lalu saya mampir ke warung di dekat lokasi. Membeli mie instan dan pulang. Saya rebus itu mie goreng dan saya tambahi nasi sedikit. Kenyang di tengah kecewa. Sekian.

 

New Year New Me ?

Andai sesederhana itu. Setiap memasuki Tahun yang Baru, kita akan menemukan diri kita yang baru. Memiliki semangat yang baru dan hal – hal lain yang juga baru. Tetapi kenyataannya adalah tidak selalu di tahun yang baru kita kan terbaharui. Kita menyusun harapan dan cita – cita ketika memasuki tahun yang baru. Lalu ketika tahun baru hendak berakhir dan kita memandang ke belakang, harapan tinggal harapan, cita – cita tinggal cita – cita.

Lalu tahun ke tahun berulang dan berulang. Kita mendapati bahwa Tahun Baru hanyalah sekedar perpindahan tahun. Kita mendapati bahwa kita hanya mengikuti arus yang ada, walau di pojokan hati memang berharap apa yang menjadi harapan dan cita – cita dapat terwujud di tahun yang baru.

Akupun adalah sama. Memiliki harapan dan cita – cita dan tahun baru. Sembari berusaha lalu keajaiban terjadi. Lalu keajaiban yang dinanti tak kunjung datang. Yang ada adalah dirimu yang tidak bergerak dari tempat yang sama. Merasa tak ingin kecewa, kau mensyukuri saja apa yang didapati.

Melirik ke tahun 2015 memang banyak yang bisa dijadikan evaluasi. Ku pikir ku menemukan jodohku. Ternyata bukan.Kalau sudah keliru begini ya cari lagi yang benar – benar nggak meragu.

Tahun 2016 saya mau nabung ajah yang banyak biar 2017 bisa nikah dengan siapapun dia :).

Selesai.

Day off Oktober Ini

Day off ini, abang gw Erik akhirnya menikah. Menikah dengan kak Rika br Sianipar. Selalu berbahagialah mereka.

IMG_20151010_094153 IMG_20151010_133915

Gw hadir di pemberkatan dan pesta adatnya. Tapi pas di pemberkatannya agak telat sih tapi masih melihat pemberkatannya. Acara adatnya dilangsungkan di Balai Hermina di Mampang Prapatan. Acara berlangsung lancar dan meriah.

IMG_20151010_154841 IMG_20151010_155928

Di setiap acara adat kayak gini, gw selalu meyakini bahwa bangsa Batak adalah bangsa yang berbahagia. Kami suka berdendang dan ber-joget dengan wajah yang tersenyum :D. Meski ada yang nggak joget minimal kaki atau tangan gerak naik turun menikmati musik.

Di acara tersebut gw juga bisa ketemu banyak keluarga. Ketemu Lae Sinurat dan Kak Martha, Vaness dan Adel, Lae Simatupang dan Kak Aa, Nangtua, Bapauda Tihar, Bapauda Gopas, Bapauda Maju beserta istri masing – masing dan anak. Banyaklah. ┬áJuga ketemu dengan Kakak cantik boru Sianturi. Cantik beneran. Tapi gw nya canggung gugup minta ampun. Kalau bertemu lagi semoga sudah nggak canggung lah :))))).

IMG_20151010_113125 IMG_20151010_170246

Day off kali ini selalu ada yang pertama kali. Pertama kali makan di lapo Tondongta sama si Grace. Seumur – umur hidup di Jakarta itu kali pertama kaki gw menginjakan kaki di Tondongta. Juga akhirnya pertama kali menginjakkan kaki di Mall Artha Gading pas ketemu si NinaK. Jadi selalu ada pertama kali untuk segala hal.

yang ini ga ada fotonya

Gw juga jalan sama Chandra beserta Fitri ke Gading. Nyari charger cuman udah tutup terus mau nyoba Kenanga dan juga tutup yang akhirnya berakhir ke depot 369. Depotnya kalem, masakannya juga. Tapi gw baru tau cara nikmatin dimsum kayak gitu dari si Chandra. Dibalik, dicolok terus diisep.

IMG_20151012_190633
Dimsum yang dibalik – balik segala buat nikmatinnya. Babinya bekasam kayaknya.

IMG_20151012_185424

Oh iya sempet jadi anak Kokas dan anak Pasar Santa juga *sekali datang langsung nge-klaim :))). First time juga gw ke sana.

IMG_20151011_140118
Chandra dan Fitri. Love seeing their smile
IMG_20151011_192540
Dian, Chandra dan Fitri menikmati Black Dog dan Cendol.

Ya udah sekian aja. Next gw mau sharing beberapa hal yang bikin gw bertanya, “kok gitu ya ?”.

Sekian

Mesin waktu

Di malam itu. Aku suntuk. Sulit mata ini untuk terpejam. Bangkit dari kasur dan mondar – mandir hingga berakhir di gudang. Kunyalakan lampu. Entah apa aku melihat kotak di atas meja. Kudatangi dan kuperiksa isinya. Ternyata mesin waktu.

Ya mesin waktu. Banyak tombol di dalamnya. Mataku memperhatikan satu – satu yang ada pada mesin waktu itu. Ku tekan salah satu tombol dan zapppppp…

Aku berada di sebuah stasiun kereta. Kuperhatikan sekeliling. Aku pernah berada di sini. Lalu ku menghampiri satpam yang ada di pintu masuk. Ku hendak menanyakan ini dimana.

“Pak..pak..numpang tanya ?”, tanyaku. Si satpam hanya diam.

“Pak..pak..”, coba kusapa dan menepuk bahunya. Tapi yang terjadinya semua tembus. Aku seperti hantu.

Merasa sudah mengetahui apa yang terjadi aku berjalan keluar stasiun. Tak jauh dari pintu gerbang terdapat minimarket. Di depan minimarket itu kudapati dua sosok yang tak asing. Mereka berdua duduk di tangga minimarket sambil menikmati es krim coklat di tangan masing – masing. Mereka berbincang – bincang dan tertawa. Aku melihat sesekali yang satu memandangi yang lainnya dengan seksama. Tidak ada kulihat kesedihan pada mereka. Mereka bahagia. Aku tersenyum melihat ini. dan zapp……

Aku kembali lagi ke gudang. Terkejut sejenak. Heran bahagia. Ku tekan lagi tombol yang lain dan zapp…

Wow. Aku tahu ini. Sea world. Ikan – ikan di balik kaca, manusia – manusia dan dilatari lagu – lagu. Lagu ini, aku tahu lagu ini. Lagi – lagi aku lihat dua sosok itu. Yang satu mendendangkan lagu ini dengan senangnya dan yang kedua tersenyum memandangi yang satu. Lagi – lagi ku tersenyum melihat ini. dan zapp…

Yang terjadi berikutnya adalah sama dan ku mencoba beberapa tombol lagi hingga aku cukup puas. Aku tersenyum dengan mata yang berseri – seri. Ini semua membahagiakan. Menyenangkan. ┬áAku mensyukuri hal – hal baik yang bisa kulihat.┬áKu tutup kotak itu. Ku angkat menuju lemari gudang. Ku simpan ke dalamnya dan ku kunci.

Aku tidak tahu apakah aku akan memerlukan kotak ini lagi. Yang sudah berlalu itu adalah hal yang baik dan akan ku kenang demikian.