Mesin waktu

Di malam itu. Aku suntuk. Sulit mata ini untuk terpejam. Bangkit dari kasur dan mondar – mandir hingga berakhir di gudang. Kunyalakan lampu. Entah apa aku melihat kotak di atas meja. Kudatangi dan kuperiksa isinya. Ternyata mesin waktu.

Ya mesin waktu. Banyak tombol di dalamnya. Mataku memperhatikan satu – satu yang ada pada mesin waktu itu. Ku tekan salah satu tombol dan zapppppp…

Aku berada di sebuah stasiun kereta. Kuperhatikan sekeliling. Aku pernah berada di sini. Lalu ku menghampiri satpam yang ada di pintu masuk. Ku hendak menanyakan ini dimana.

“Pak..pak..numpang tanya ?”, tanyaku. Si satpam hanya diam.

“Pak..pak..”, coba kusapa dan menepuk bahunya. Tapi yang terjadinya semua tembus. Aku seperti hantu.

Merasa sudah mengetahui apa yang terjadi aku berjalan keluar stasiun. Tak jauh dari pintu gerbang terdapat minimarket. Di depan minimarket itu kudapati dua sosok yang tak asing. Mereka berdua duduk di tangga minimarket sambil menikmati es krim coklat di tangan masing – masing. Mereka berbincang – bincang dan tertawa. Aku melihat sesekali yang satu memandangi yang lainnya dengan seksama. Tidak ada kulihat kesedihan pada mereka. Mereka bahagia. Aku tersenyum melihat ini. dan zapp……

Aku kembali lagi ke gudang. Terkejut sejenak. Heran bahagia. Ku tekan lagi tombol yang lain dan zapp…

Wow. Aku tahu ini. Sea world. Ikan – ikan di balik kaca, manusia – manusia dan dilatari lagu – lagu. Lagu ini, aku tahu lagu ini. Lagi – lagi aku lihat dua sosok itu. Yang satu mendendangkan lagu ini dengan senangnya dan yang kedua tersenyum memandangi yang satu. Lagi – lagi ku tersenyum melihat ini. dan zapp…

Yang terjadi berikutnya adalah sama dan ku mencoba beberapa tombol lagi hingga aku cukup puas. Aku tersenyum dengan mata yang berseri – seri. Ini semua membahagiakan. Menyenangkan.  Aku mensyukuri hal – hal baik yang bisa kulihat. Ku tutup kotak itu. Ku angkat menuju lemari gudang. Ku simpan ke dalamnya dan ku kunci.

Aku tidak tahu apakah aku akan memerlukan kotak ini lagi. Yang sudah berlalu itu adalah hal yang baik dan akan ku kenang demikian.

Advertisements

Podcast Awal Minggu

Podcast. Definisinya aja gw nggak tau.

Gw nggak pengen ribet dengan istilah. Podcast Awal Minggu adalah sesuatu yang di-upload di awal minggu oleh Komika keren bernama Adriano Qalbi.

Berbicara nama Adriano Qalbi sebagai komika adalah komika yang nggak setenar komika yang aktif di layar kaca maupun di sosmed. Beliau komika yang kritis yang jatahnya bukan untuk layar televisi anda. Sesungguhnya, gw nggak tau banyak. Mungkin materi dia belum untuk masyarakat Indonesia kebanyakan. 10 – 20 tahun lagi mungkin. Mungkin. Lebih.

Berhubung dia nggak tenar, makanya dia bikin Podcast. Dengan demikian dia dapat menjaring pendengar – pendengar fanatiknya untuk mendirikan sebuah organisasi kayak Iluminatti. Makanya pendengarnya makin lama makin dikit. Makin sedikit, makin sedikit hingga hanya orang – orang terpilih yang dapat menjadi saksi ketika sang komika akhirnya gila.

Podcast Awal Minggu.

Podcast Awal Minggu ini berdurasi sekitar 1 jam-an. Di podcast ini kita bisa mendengar om Adri ngoceh tentang banyak hal. Mulai dari soal medsos, cinta – cintaan, bank dan asuransi, empati kampung Pulo, sampe yang terakhir kemarin gw denger adalah tentang lagi rame – ramenya orang – orang cerdas bela – belain korporasi taksi – taksian. Orang udah banyak duit dibelain. Ya jelas menarik.

Di Podcast Awal Minggu ini, Om Adri mengulas dengan se-tai mungkin banyak hal. Se-tai mungkin sehingga lu memutuskan untuk nggak mendengar lagi itu Podcast. Beneran. Di launching awal, pendengarnya sampai 1496, dan yang terakhir kemarin adalah 145. 90%-an turunnya (Ini yang di Yutub). Jelas menarik.

Mungkin akhirnya banyak memutuskan untuk nggak mendengar lagi karena eman 1 jam hidupnya yang berharga terbuang. Atau mungkin lagi – lagi belum nyampe aja. Ini kenapa jadi bahas penurunan ? Kagak penting.

Yang jelas. Mendengar Podcast ini adalah penting. Apalagi yang bosan melihat orang – orang normal di layar kaca. Nggak ada salahnya mendengar. Sekalian latihan, terutama buat yang jomblo – jomblo. Biar nanti pas punya gebetan atau pasangan terbiasa untuk menjadi pendengar yang baik.

This is good for your soul. Jujur.

Podcast Awal Minggu

Itu linknya di yutub. Klo mau follow twitter orangnya @adrianoqalbi.

Sekian dari gw.

Mengingini yang bukan milikmu

Di sela – sela kurang ide dan semangat untuk menulis, akhirnya ada juga bahan untuk ditulis.

Perihal mengingini yang bukan milik kita adalah hal yang sering saya temukan di keseharian saya. Beberapa waktu yang lalu, sewaktu turun ke Pontianak saya menyempatkan mencari sandal baru untuk saya gunakan di Distrik. Biasanya, ketika di sekitaran Mess ataupun kantor, saya dan yang lainnya “nyeker” aja dari satu tempat ke tempat lainnya.

Akhirnya sandal sudah saya beli. Merk Eiger. Sendalnya nyaman. Awal saya kira sempit tetapi lama – kelamaan saya pakai tidak lagi terasa sempit. Tali sendalnya berwarna hijau muda. Kayak berpendar tetapi tidak. Sudah saya coba matikan lampu kamar di malam hari, talinya tidak berpendar.

Mulailah saya menggunakan sandal ini dari Mess ke kantor. Saya merasa optimis bahwa sandal saya akan biasa – biasa saja dan hanya akan saya saja yang memakai. Beberapa hari berlalu, memang hanya saya yang pakai. Namun ada beberapa kejadian yang mulai membuat saya tidak nyaman ketika sandal saya mulai tidak ada di tempatnya.

Saya lupa hari tapi saya ingat kejadiannya ketika seharian penuh itu sandal tidak kelihatan. Awal saya kira mungkin ada teman yang memakai untuk ke musholla. Tetapi hingga sore dan malam menjelang itu sandal tidak kunjung kembali ke tempat semula atau dimanapun di sekitar kantor. Berpikir lagi mungkin ada tenaga penanaman yang membawa dan esoknya akan dikembalikan. Esok datang, sandal pun belum juga datang. Di saat kehilangan seperti ini, saya menerapkan berpikiran positif bahwa itu sandal pasti balik. Setelah beberapa hari, saya ikhlas itu sandal  tidak kembali. Beberapa saat saya hendak menyumpah tapi tiada guna juga.

Hari berlalu dan tibalah pada suatu pagi kami karyawan sarapan bersama di kantin. Selesai sarapan kami, biasanya kami berbincang – bincang. Tentang apapun. Di awal pagi itu, adaptor fingerprint copot dan hilang entah kemana. Pelakunya ? Tiada yang tahu. Berkenaan dengan hilang itu mulailah kami berbicara tentang hal – hal kehilangan di kantor. Tiba saatnya saya ketika saya berbicara tentang kehilangan sandal saya. Teman mulai bertanya mulai dari merk hingga warna. Ternyata dia menyimpan sandal itu. Dia melihat sandal itu berhari – hari di jalan. Saya tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi fakta bahwa sandal saya baik – baik saja membuat saya senang.

Tak lama dari pagi itu, sandal saya sudah hilang lagi. “Duh, ini sandal kemana lagi ?”, itu saya sambil garuk – garuk kepala. Sore agak malam sandal saya sudah kembali lagi. Ternyata dibawa pergi ke Distrik sebelah. Lucunya adalah teman yang membawa itu sandal ijin ke teman saya dan bukan ke saya. Bagaimana bisa meminta ijin memakai barang milik kamu tetapi ijinnya ke orang lain ?

Setelahnya dan setelahnya yang terjadi adalah saya menemukan sandal saya suka berpindah.  Sekarang, sandal itu sudah saya cuci dan simpan di kamar karena Sabtu ini saya hendak turun ke Pontianak. Mau rehat sejenak di kota. Butuh kebisingan dan orang – orang.

Kejadian – kejadian ini coba saya kaitkan dengan rasa mengingini bahkan memiliki. Di kesehariannya, saya dan teman – teman terbiasa “nyeker”. Debu tanah tidak menjadi masalah bagi telapak kaki kami. Lalu sandal saya ada, kenapa beberapa tiba – tiba merasa kakinya harus bersih dengan barang milik orang lain. Kenapa hal sekecil  ini harus saya lihat sebagai masalah ? Karena segala bermula dari hal yang kecil. Itu aja. Sekian.

Kebaikan – kebaikan

IMG_20150907_144735[1]

Foto diambil di Pontianak, dimana kota ini sedang diselimuti asap. Lalu hujan turun membasahi tembok – tembok.

Dari beberapa waktu yang telah berjalan, orang datang dengan kebaikan – kebaikan. Orang – orang mencoba menolong dengan memperkenalkan ini dan itu. Sesaat, mungkin itu yang gw butuhin, kenal orang – orang baru. Tapi sebenarnya gw sendiri nggak tahu apa yang gw butuhin. Gw butuh orang atau malah sebenarnya gw butuh sendiri aja. Gw mencoba menghargai semua kebaikan yang datang dari teman – teman. Tetapi ada juga kebaikan yang malah membawa gw kepada ketidakgembiraan. Tapi gw mencoba masa bodo dengan semua hal – hal itu. Satu ketidakgembiraan yang datang tidak lantas mengubah apa – apa.

Sama halnya dengan seekor anjing yang ditimpuki. Satu timpukan dari orang yang tidak suka tidak akan mengubah apa – apa, hanya menambah jumlah saja. Tapi satu kepedulian seseorang yang datang dan memutuskan merawatnya mungkin bisa mengubah segalanya.

Belum lagi dengan beban – beban yang tidak terlihat di pundak ini. Jujur gw merasa menjadi orang yang nggak bersemangat. Anak pertama dari seorang Batak dengan adik gw yang sudah menikah. Dengan kondisi yang kayak gini juga gw mesti memahami orang lain. Memahami orang yang mencoba menghibur tapi sebenarnya malah makin bikin sakit aja. Bebas dah.

Untuk sekarang, gw nggak akan mengakui diri gw sebagai orang yang bahagia. Kalaupun gw tersenyum, ya namanya juga usaha :)))). Ya mungkin dengan kesabaran yang sudah – sudah, kebahagiaan itu kan datang.

Ya sudah. Ini asap di Kalbar ada di mana – mana. Uhuk – uhuk.

Ke pinggir Hutan.

Ke pinggir hutan adalah kegiatan baru – baru ini yang gw lakuin. Gak jauh dari kantor. Hutannya ini adalah hutan koridor. Penghubung dua konsesi. Cukup berjalan kaki sebentar dan sampai deh.

Pinggir hutan tempat yang bagus buat merenung. Buat jernihin pikiran dan banyak hal. Hutan selalu mengingatkan gw akan pesan dari seorang mentor di Riau dahulu tentang tiga anak yang masuk ke Hutan. Tiga – tiganya punya kesan yang berbeda – beda. Ada yang biasa – biasa aja. Ada yang ketakutan dan ada yang melihat banyak hal.

Buat gw. Banyak hal yang bisa didapat di pinggir Hutan. Dari berdiam diri saja kita udah bisa nikmatin kicauan burung – burung. Ada burung madu, falconet, merbah, cabe, dan banyak lagi. Lebih tenang lagi, kita juga bisa mengamati tingkah laku tupai yang naik turun dari ranting satu ke ranting lain. Dan rada serem ya tadi sore. Suara orang utan sahut – sahutan cuman wujudnya nggak keliatan. Kurang beruntung. Ingin langsung rasanya melihat orang utan di alam. Tapi nggak pake dikejar – kejar orang utan. Ya semoga nggak cuma lihat dari kamera teman aja.

Udah ah gitu dulu. Banyak selingan susah fokus.

Menjadi aneh ketika

Akan ada saatnya ketika sesuatu yang sebenarnya biasa aja menjadi hal yang aneh.
Baru – baru ini adalah ketika gw mencoba menjangkau sesuatu yang mestinya jangan dijangkau. Sesuatu yang seperti elo ngelihat suatu barang dan bilang “ah biarin aja di situ”. “ah biarin aja di situ” yang gw maksud adalah masa lalu yang terlalu berlalu.

Gw cerita ke kakak gw soal gw udah putus bla bla bla. Nanya ke dia apa yang ada bisa dikenalin. Ya dikenalin aja dulu, soal gimana – gimananya nanti ya urusan belakangan. Gak tau gimana, nama yang pertama muncul dari si kakak adalah (sebut saja) si Siti. Siti adalah mantan gebetan (iya gak sempet jadian udah ditendang gw). Yup mantan gebetan yang asik tapi setelah beberapa bulan jalan ternyata dia nggak punya perasaan apa – apa.
Si kakak kepo nanya perasaan gw ke gimana. Gw jawab ya seadanya aja. Ok. Si kakak langsung aja komunikasi sama si Siti. Si Siti mau. Nah disini “missing link”nya. Si Siti kagak tau yang dimaksud kakak adalah gw. Gw. Iya gw. Gw yang hina ini :)).

Gw nyoba WA-in sih gitu. Jadi kayak orang wawancara kerja. Gw nanya dia jawab. Gw tanya dia jawab. Sesekali ngajuin pertanyaan balik. Tapi semua terasa aneh jadinya. Tidak secair biasanya. Terasa moodnya gak enakin. Tapi mood gak enak bukan jadi kendalanya sih. Gw merasa kendalanya adalah dia tau maksud dan tujuan gw. Dia nggeh yang dimaksud si kakak adalah gw. Lalu dia berpikir,”ah dia ternyata”. Atau apalah. Gak ada yang benar – benar tau apa yang ada dipikiran seorang wanita.

Atau atau atau ya gw aja yang belum siap untuk masa lalu. Sesederhana itu. Perasaan di masa lalu adalah perasaan yang terpencil banget di dalam belantara hati (apaan neh). Sesekali mencoba menelusuri dan meraihnya yang ada malah lo ketakutan sendiri. Lo lebih siap dengan hal baru. Lebih siap dengan tak berperasaan apa – apa pada seseorang. Lebih siap untuk membangun daripada memugar. Dengan hal baru, ya kayaknya sih segala kemungkinan sah – sah aja.

Tapi dengan masa lalu, berasa pesimis gw. Jikalau mesti dengan masa lalu, pesan gw sama masa lalu,” jangan gitu – gitu amat, gak kuat gw”.

Ya jadi begitulah kakak gw yang berusaha bantu gw dengan strategi yang salah. Kagak nyebut nama gw ke si Siti.
Sekali mau dikenalin lagi sama temannya yang lain malah seumur dia. Lebih tua 4 tahun. Jauh. Cara pandang tentang kehidupan juga udah pasti beda. Tapi bukan itu sih. Walau rela, tapi pasti keberatan si bapak dan si ibu.

Ya udah gitu aja deh.

Komen aja. Bebas.

Random di 2015

Ini apa ceritanya nulis setahun sekali. Setahun lebih malah.

2015. Tinggal 4 bulan lagi. Di 2015, adik gw nikah. Gw putus. Dollar meroket, pesawat kecelakaan dan Kampung Pulo digusur.

Adik gw menikah adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Dikira klise sih terserah, cuman gw senang lihat adik gw menikah *walaupun gw belum. Artinya walaupun gw belum bisa menikah, bukan berarti gw harus menahan – nahan niat dia untuk menikah.

Gw putus adalah gw diputusin. Pada akhirnya niat gw ya nggak kesampaian. Aing teh udah ngeliat pertanda – pertanda. Sama kayak Jakarta, udah tau kagak bisa dibenahi masih juga ditata – tata. Daripada memperbaiki yang hendak tenggelam lebih baik cari lokasi ibukota baru yang bisa ditata dengan baik. But you know, namanya juga usaha. Memperjuangkan harapan. Kalau akhirnya hancur, ya sudah.

Dollar meroket. Bodo amat lah. Biar merasa ngerti aja yang ngurus.

Pesawat kecelakaan. Gw kagak bisa bodo amat. Turut berbelasungkawa.

Kampung Pulo digusur. Demi Jakarta Baru katanya. Dari kasus beginian, gw bisa melihat fenomena – fenomena di twitter. Gimana orang – orang berpihak – pihak. Mulai dari yang bicaranya kasar, nggak mengena ke topik tapi lebih ke masa lalu dan apa yang lo udah lakuin.

Pendapat adalah sesuatu layak didengar terlepas dari siapapun orangnya dan kepentingannya apa. Alih – alih berdiskusi malah lebih senang merunyamkan keadaan. Cuman beberapa orang emang konsisten sih merunyamkan keadaan. Dia gak memihak ke yang benar dan ke yang salah. Cuman senang ngelihat keadaan jadi kacau balau. Yang kayak gini didiemin aja juga capek sendiri.

Gw mengapresiasi Pak Ahok untuk menjadikan Jakarta menjadi tempat yang lebih baik. Semoga nggak salah langkah Pak. Semoga ketegasan bapak, juga diliputi dengan kebijaksanaan. Semoga bukan karena media yang membuat bapak seperti itu. Juga bukan karena buzzer – buzzer bapak di twitter yang memandang orang – orang lain nggak ngerti apa – apa selain dirinya. Semoga Tuhan selalu menyertai langkah bapak dalam segala tugas dan tanggung jawab bapak.

Jadi segitu dulu. Sampai jumpa lagi.