Ini tentang gw dan dia.
Faktanya adalah gw (sekarang) hitam dan Ana adalah putih (kulitnya). Jadi klo kita berdua lagi foto2 akan selalu kelihatan mana yang gelap dan mana yang terang. Ya jadi2nya kalau diibaratkan dengan sayur sawi, gw jadi sawi hijau dan dia jadi sawi putihnya.
Sudah 3 bulan sejak tanggal 26 Desember 2011 lalu
. Dan sejauh ini kami masih bisa saling komunikasi dan saling mendukung. Di awal – awal masuk ke distrik yang baru, gw sempet bakal bingung soal sinyal. Sebelum itu kita masih bisa ngadalin xl buat komunikasi. Tapi ketika masuk distrik baru ya udah gak ada lagi sinyal xl. Tapi kita nggak berhenti di situ karena masih ada sinyal yang lain
). Jadi ya masih bisa tetap dijaga komunikasinya.
Seorang anak muda pernah bertanya sama gw. “Lu tahan nold LDR-an ??”. Gw terkejut (pertanyaan macam apa ini ?). Ya gw jawab, ” ya bisa, kan kita udah sama2 komitmen. Lagian klo gak bisa tahan, ngapain juga jadian ?”. Anak muda itu kemudian dengan logika di kepalanya, “oh iya juga,,,”. Ya namanya LDR-an emang bukan hal mudah buat sebagian orang. Tapi bukan berarti menjadi hal yang mudah aja buat kami berdua. Ketika kamu kangen, tapi gak bisa sesegeranya bertemu. Ketika kamu mau bercerita ini itu, kamu cuma bisa bicara sama kotak kecil yang selalu setia menyampaikan suaramu kepada dia yang disana. Memang nggak mudah. Tapi awal kami kenal pun tidak dengan tatap muka.Mungkin disana bedanya, kami saling percaya meskipun tak saling melihat dan kemudian begitu saja saling jatuh cinta. Lalu di dalam kerinduan, kami saling menyokong untuk tetap bersabar untuk menabung rindu ini hingga nanti kami bertemu kembali. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa
.
Ngomong2 soal sawinya tercetus pas kita berdua lagi menunggu nasi goreng yang belum datang. “Kenapa namanya sawi putih ya ? kan ada ijonya ?”, Ana bertanya. “Karena ada putihnya yang, coba bandingin sama sawi hijau”, jawab gw santai. “Tapi tetep aja kan ada ijonya”, mulai mulai mulai. Lalu seterusnya obrolan nggak jelas arahnya berlanjut hingga dia menjadi sawi putih dan gw sawi ijo.
Sekian dulu.
